Warga mengikuti kirab budaya Sadranan Agung Wotgaleh di Sendangtirto Berbah Sleman dengan membawa gunungan hasil bumi/Foto: Media Center SlemanIndoragamnewscom, SLEMAN-Sadranan Agung Wotgaleh menjadi pusat perhatian warga Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Sleman, saat ratusan orang memadati kompleks Masjid Wotgaleh, Minggu (8/2/2026). Tradisi tahunan ini digelar setiap bulan Ruwah atau Sya’ban sebagai bagian dari penyambutan Ramadan 1447 Hijriah.

Kegiatan yang sarat nilai budaya dan spiritual ini berintikan doa bersama untuk para leluhur sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat. Warga dari berbagai kalangan hadir mengikuti rangkaian acara yang berlangsung sejak pagi.
Acara turut dihadiri Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa. Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya yang bergerak dari Kantor Kapanewon Berbah menuju Masjid Wotgaleh.
Dalam kirab tersebut, peserta membawa beragam hasil bumi yang menjadi simbol rasa syukur. Hasil bumi itu kemudian didoakan bersama sebelum didarmakan ke makam Pangeran Purbaya, putra Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam, yang dimakamkan di kompleks masjid.

Puncak tradisi ditandai dengan rayahan, yakni warga berebut gunungan hasil bumi yang telah didoakan. Masyarakat meyakini hasil bumi tersebut membawa berkah.
Wakil Bupati Sleman memberikan apresiasi terhadap masyarakat yang konsisten menjaga tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Sadranan Agung bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan identitas kultural yang mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Sleman, menurut Danang, berkomitmen mendukung kegiatan kebudayaan yang memiliki nilai edukasi dan sejarah bagi masyarakat.
Ia berharap kegiatan seperti Sadranan Agung dapat menjadi ruang mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Kerukunan adalah modal utama kita dalam membangun Sleman yang lebih baik,” katanya.
Lurah Sendangtirto, Amir Junawan, menyebut tradisi tersebut sebagai bentuk rasa syukur kolektif sekaligus penghormatan kepada leluhur, terutama Pangeran Purbaya.
“Keberadaan makamnya di sini menjadikan Sendangtirto memiliki nilai historis kuat bagi perkembangan Islam di Jawa,” kata Amir.
Tradisi ini juga menjadi sarana menjaga nilai-nilai luhur peninggalan Mataram Islam agar tetap dikenal generasi muda. Warga yang hadir mengikuti seluruh rangkaian acara dengan khidmat hingga penutupan, saat mereka membawa pulang bagian gunungan sebagai bagian dari persiapan batin menyambut Ramadan.







Tidak ada komentar