SPBU Pertamina di Karangpawitan Kabupaten Garut/Foto: Nandang Permana/IndoragamnewscomIndoragamnewscom, JAKARTA-Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri di Istana Kepresidenan guna membahas dampak eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Pemerintah memastikan cadangan bahan bakar minyak nasional masih cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 20 hari ke depan meski jalur distribusi minyak global terganggu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, melaporkan langsung kondisi terkini pasokan energi kepada Presiden usai menghadiri rapat tersebut, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, penutupan selat yang menjadi jalur transportasi minyak mentah terpadat di dunia itu menjadi perhatian serius pemerintah karena pengaruhnya yang signifikan terhadap distribusi minyak global. Badan intelijen AS memperkirakan sekitar 30 persen minyak yang diperdagangkan melalui jalur laut setiap harinya melintasi Selat Hormuz.

Meski situasi di Timur Tengah memanas akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, Menteri Bahlil mengimbau masyarakat agar tidak khawatir akan terjadinya kelangkaan bahan bakar di dalam negeri.
“Masih cukup, 20 hari. Stok BBM di atas 20 hari itu masuk dalam kategori aman,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
Pemerintah berkomitmen menjaga ketahanan energi nasional tetap stabil meskipun jalur pasokan utama di Timur Tengah mengalami gangguan akibat konflik bersenjata. Bahlil menjelaskan bahwa laporan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi terkini geopolitik menjadi langkah antisipatif terhadap sektor energi.
“Karena ini kita antisipasi tentang pasokan minyak dunia, karena bagaimanapun kita masih melakukan impor 1 juta barel per day,” katanya.
Indonesia tercatat mengimpor sekitar 1 juta barel minyak mentah per hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri yang mencapai 1,6 juta barel per hari.
Sebagai langkah lanjutan, Menteri Bahlil menyatakan akan segera menggelar rapat koordinasi dengan Dewan Energi Nasional pada Selasa (3/3/2026). Pertemuan tersebut bertujuan merumuskan langkah-langkah strategis dan antisipatif guna menghadapi dampak jangka panjang dari konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Nanti besok Insya Allah saya rapat di ESDM, kami akan rapat dengan Dewan Energi Nasional,” tuturnya.
Pemerintah menegaskan akan terus berada dalam posisi siaga untuk melindungi kepentingan nasional serta memastikan ketersediaan energi bagi seluruh rakyat Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa pemerintah telah mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah dengan melakukan diversifikasi sumber pasokan, termasuk meningkatkan impor minyak dari Amerika Serikat melalui kerja sama dengan perusahaan energi Chevron dan ExxonMobil.






