Sepuluh Sikap Keluarga Hadapi Kesulitan Ekonomi

3 menit membaca
Fitri Sri
Khazanah - 22 Jun 2026

Indoragamnewscom-Keharmonisan keluarga tidak ditentukan oleh besaran gaji suami, jumlah uang yang dimiliki, atau banyaknya investasi yang telah disiapkan. Yang lebih fundamental adalah sikap hidup positif dalam menghadapi persoalan ekonomi.

Berikut sepuluh sikap yang perlu dimiliki pasangan suami dan istri agar tidak terjebak dalam konflik akibat kesulitan ekonomi:

Syukur atas apa yang Allah berikan. Syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah”, melainkan suasana jiwa yang ridha dengan setiap pemberian. “Syukur bukan soal banyak atau sedikitnya rejeki,” demikian keyakinan yang dipegang. Persoalan merasa cukup atau kurang tidak ditentukan oleh besaran uang, tapi lebih banyak ditentukan oleh situasi hati.

Sabar saat kesulitan. Putus asa dan keluh kesah tidak memperbaiki kondisi. Kesabaran justru memudahkan urusan. Suami dan istri saling menguatkan dalam kesabaran tanpa perlu emosi, bertengkar, atau uring-uringan.

Giat berusaha. Allah memerintahkan membuka pintu rezeki dengan usaha lahiriyah dan batiniyah. Usaha lahir berupa bekerja keras mencari nafkah secara halal. Usaha batin meliputi istigfar dan taubat, taqwa, tawakal, ibadah sepenuh hati, silaturahim, berbuat baik kepada yang lemah, berinfak dan shadaqah, hijrah di jalan Allah, berinfak bagi penuntut ilmu agama, serta melanjutkan haji dengan umrah.

Tidak putus asa. Rezeki halal dan thayib tidak datang sendiri dari langit, tidak hanya dengan doa dan ibadah di masjid. Harus disertai usaha terus menerus. Malu dan sungkan hanya berlaku untuk hal yang tidak benar atau haram. Bekerja mencari nafkah dengan cara halal, meski kadang “terpaksa” pada bidang tak sesuai spesifikasi keilmuan, tidak perlu merasa malu.

Saling terbuka dan bekerja sama. Pada situasi sulit, komunikasi suami-istri harus diperbaiki. Bentuk kerja sama tidak selalu keduanya sama-sama bekerja. Salah satu bentuk tradisional: suami bekerja keras, istri mengelola keuangan dengan hemat dan cermat. Jika suami sudah optimal namun hasil tak mencukupi, istri bisa membantu dengan pekerjaan dari rumah—bisnis rumahan yang sesuai dengan tugas keibuan mengurus dan mendidik anak.

Tidak saling menyalahkan. Istri yang emosional karena kekurangan uang kerap menyalahkan suami, menuduhnya pemalas dan tak mau bekerja keras. “Pada kondisi suami berada dalam situasi kesulitan mencari nafkah, suasana jiwanya menjadi hypersensitif,” bukan saja sensitif, namun teramat sangat sensitif. Kata-kata istri yang bermaksud memotivasi pun bisa berdampak negatif karena dianggap melecehkan. Menyalahkan tidak menyelesaikan masalah, justru menambah rumit.

Menjauhi perbuatan haram. Sesulit apapun, jangan mencuri, korupsi, merampok, atau menipu. Perbuatan tercela itu membawa masalah baru yang lebih rumit dan kompleks, masuk ke persoalan hukum, dan memperpuruk kehidupan keluarga. Jika masih ada aset bisa dijual, atau bisa pinjam kepada kolega, itu solusi. Perbuatan haram hanya mendatangkan penyesalan dan kesengsaraan, tidak membawa keberkahan.

Hemat dan sederhana. Jika tak mampu membeli mobil, cukup sepeda motor. Jika tak mampu membeli motor, cukup sepeda kayuh. Banyak hal bisa dihemat, dari kuantitas maupun kualitas. Dalam situasi sulit, turunkan kualitas sabun mandi—dari Rp10.000 menjadi Rp5.000 sebatang. Tidak perlu gengsi menggunakan perlengkapan hidup “tidak bermerk” demi penghematan.

Menjauhi gaya glamour. Gaya hidup hedonis, glamour, berfoya-foya menjadi sumber persoalan ekonomi. Anak muda yang doyan belanja dan pamer barang mewah membentuk gaya hidup “high class” yang selalu menuntut pemenuhan. Jika di masa muda terpenuhi orang tua kaya, kelak saat berumah tangga mereka menanggung sendiri. Jika mendapat suami “sangat biasa”, ini menjadi kesengsaraan dan memicu konflik. Gaya hidup harus menyesuaikan kemampuan masing-masing, tidak perlu malu atau gengsi.

Mencari solusi bersama. Suami dan istri duduk berdua tanpa emosi dan kemarahan, menemukan solusi tepat. Buat skema dan rencana bersama. Jika plan satu tidak bisa, gunakan plan lain. Suami yang menutup diri karena gengsi dan takut harga diri direndahkan justru membuat suasana rumit. Mereka berjalan dengan pikiran masing-masing dan berakhir pada saling menyalahkan.

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

1 month ago
2 months ago
2 months ago
3 months ago
3 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!