Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni/Foto: Media Center JatimIndoragamnewscom, SURABAYA-Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni, menyebut lonjakan kasus Tuberkulosis yang menembus lebih dari satu juta secara nasional sebagai kondisi darurat. Ia mendesak pemerintah provinsi bertindak lebih agresif.

“Peningkatan kasus Tuberkulosis yang telah menembus lebih dari satu juta kasus, dengan ratusan ribu di antaranya belum terdeteksi, adalah kondisi darurat yang harus segera ditangani secara serius,” ujar politisi Partai Demokrat itu di Surabaya, Rabu (15/4/2026).
Kekhawatiran ini merujuk pada data Kementerian Kesehatan RI. Secara nasional, kasus TBC telah mencapai 1,09 juta. Dari jumlah itu, sekitar 867 ribu kasus tertangani. Sisa 300 ribu kasus lainnya diperkirakan masih berkeliaran tanpa terdeteksi di tengah komunitas.
Menurut Sri Wahyuni, Jawa Timur sebagai provinsi dengan populasi padat memiliki kerentanan tinggi. Ia mendorong pemerintah memperluas skrining massal hingga menyentuh tingkat desa dan kelurahan.

“Edukasi kepada masyarakat juga harus digencarkan, terutama terkait pencegahan dan pentingnya pengobatan hingga tuntas,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa penanganan TBC tidak cukup hanya dari sisi medis. Perbaikan kualitas lingkungan, penyediaan hunian layak, serta penguatan kondisi sosial ekonomi masyarakat dinilai sebagai bagian penting dari strategi penanggulangan.
DPRD Jatim berkomitmen mengawal penguatan anggaran, regulasi, dan pengawasan program. “Keselamatan dan kesehatan masyarakat adalah prioritas utama. Kami juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan dini demi memutus rantai penularan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyoroti bahwa 300 ribu kasus tak terdeteksi ini menjadi pekerjaan rumah besar. Jika tak ditemukan, mereka berpotensi menularkan tanpa sadar.
Anggota Komisi E DPRD Jatim, Benjamin Kristianto, sebelumnya juga menyerukan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, satu juta kasus TBC bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan kegagalan sistemik dalam deteksi dini dan pengawasan lingkungan.







Tidak ada komentar