Ilustrasi Perajin sarung Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)/Foto: IstimewaIndoragamnewscom, JAKARTA-Konflik bersenjata antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel berdampak langsung pada pelaku usaha kecil menengah di daerah. Perajin sarung Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Kota Tegal, Jawa Tengah, mengalami pembatalan ekspor hingga 50.000 potong sarung ke pasar Afrika.

Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyoroti dampak geopolitik global yang ternyata menyentuh sektor ekonomi lokal. Ia menilai insiden ini membuktikan bahwa industri tradisional yang menjadi sumber penghidupan masyarakat tidak luput dari gejolak internasional.
“Banyak yang mengira konflik Iran–Israel tidak berdampak ke daerah seperti Tegal. Padahal kenyataannya ada. Pengiriman sarung dari pengusaha Tegal ke Afrika tertunda hingga mencapai 50.000 potong,” ujar Fikri, Jumat (6/3/2026).
Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX itu menjelaskan, tertundanya pengiriman dua kontainer sarung tidak hanya merugikan pengusaha. Efek berantai mengancam pekerja dan pelaku usaha lain yang terlibat dalam rantai produksi, mulai dari buruh tenun hingga pemasok bahan baku lokal.

“Pengusaha sarung tentu memiliki karyawan yang berasal dari masyarakat sekitar. Bahan bakunya juga disuplai oleh pelaku usaha lokal. Ketika ekspor terganggu, dampaknya bisa meluas,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipatif, Fikri mendorong pelaku UMKM melakukan diversifikasi pasar ekspor. Ketergantungan pada satu kawasan pasar yang rentan gejolak geopolitik perlu diantisipasi dengan membuka peluang ke negara lain yang lebih stabil.
Politisi Fraksi PKS itu menyarankan pelaku usaha sarung dari Tegal memperluas pasar ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand. Peluang ekspor juga terbuka di kawasan lain seperti Turki maupun wilayah Asia Tengah.
Menurutnya, memiliki alternatif pasar menjadi langkah penting menjaga keberlanjutan ekonomi daerah ketika terjadi gejolak di satu kawasan perdagangan. “Dengan memiliki beberapa tujuan pasar ekspor, pelaku usaha akan lebih siap menghadapi situasi global yang tidak menentu,” katanya.
Selain diversifikasi pasar, Fikri menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dan media sosial untuk memperluas akses pasar internasional. Melalui platform digital, pelaku UMKM dinilai dapat menjangkau pasar baru tanpa biaya pemasaran besar.
Ia berharap langkah adaptif tersebut dapat membantu pelaku industri sarung tradisional tetap bertahan sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di pasar global.






