Pertunjukan kesenian sisingaan khas Subang dengan boneka singa diusung empat orang penari dan ditunggangi anak-anak/Foto: Indonesia Kaya
Indoragamnewscom-Kesenian sisingaan atau gotong singa bukan sekadar atraksi hiburan khas tanah Pasundan. Di balik gerak dinamis para penandu dan musik yang menghentak, tersimpan kisah perlawanan masyarakat Subang terhadap kolonialisme Inggris dan Belanda pada abad ke-19.

Kini, kesenian yang lahir dari penderitaan itu telah menjadi ikon budaya Kabupaten Subang yang terus dilestarikan.
Dalam bahasa setempat, “sisingaan” berarti singa tiruan. Seni pertunjukan yang lahir dan berkembang di daerah Subang ini memadukan seni tari dengan seni keterampilan.
Boneka singa yang digunakan terbuat dari kayu dan bambu yang dibalut kain berwarna cerah. Pada bagian punggung singa, dibuat lekukan sebagai tempat duduk anak-anak atau tamu kehormatan, biasanya untuk mengarak pengantin sunat keliling kampung.

Kesenian ini muncul sekitar tahun 1840 saat daerah Subang dikuasai oleh penjajah Belanda dan Inggris. Pada masa itu, wilayah Subang merupakan bagian dari daerah yang dinamakan “Pamanoekan en Tjiasemlanden” atau P & T Lands.
Secara politik dikuasai Belanda dengan lambang mahkota, sementara ekonomi dikuasai Inggris dengan lambang singa. Tekanan ekonomi yang kuat dari kolonial Inggris memicu perlawanan masyarakat Subang dalam bentuk kebudayaan.
Sisingaan lahir sebagai bentuk sindiran halus terhadap penjajah. Patung singa melambangkan penguasa kolonial, empat orang pengusung menggambarkan rakyat pribumi yang tertindas, sementara anak yang menunggangi singa menjadi simbol generasi penerus yang kelak akan mengusir penjajah.
Kesenian ini menjadi cara masyarakat Subang mengekspresikan perlawanan ketika perlawanan fisik tak memungkinkan.
Versi lain mengenai kehadiran kesenian ini berkaitan dengan anjungan Jawa Barat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Saat anjungan akan selesai dibangun, Kabupaten Subang belum memiliki sumbangsih. Bupati Subang kemudian menciptakan sisingaan sebagai bentuk kontribusi daerah terhadap anjungan Jawa Barat di TMII.
Pertunjukan sisingaan dimulai dengan sambutan ketua kelompok, dilanjutkan aba-aba dimulainya atraksi. Alat musik seperti kendang indung, kulanter, bonang, tarompet, goong, kempul, dan kecrek mengiringi para penandu yang menggotong singa sambil melakukan gerakan dinamis.
Rombongan kemudian mengarak sisingaan keliling kampung, menampilkan gerakan seperti pasang kuda-kuda, bangkaret, gugulingan, sepakan dua, hingga kakapalan.
Sisingaan terus berkembang mengikuti zaman. Pada masa sekarang, kesenian ini tak hanya ditampilkan dalam acara khitanan, tetapi juga untuk menyambut tamu kehormatan, perayaan hari besar, hingga festival budaya tingkat nasional dan internasional.
Pemerintah Kabupaten Subang secara rutin menggelar Festival Sisingaan yang menjadi ajang kompetisi sekaligus pelestarian budaya. Diperkirakan ada ratusan grup sisingaan yang tersebar di berbagai desa di Subang .
Musik pengiring pun semakin dinamis dengan tambahan lagu-lagu kontemporer, namun tetap mempertahankan alat musik tradisional sebagai instrumen utama.
Perkembangan ini membuat sisingaan tetap relevan di mata generasi muda sekaligus menjaga nilai historisnya sebagai simbol perlawanan .
Sisingaan juga dipercaya masyarakat Sunda sebagai ungkapan keselamatan serta rasa syukur atas berkah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Secara sosial, kesenian ini memperkuat ikatan warga dan meningkatkan ekonomi para seniman tradisional. Kehadirannya di ruang publik menjadi representasi identitas lokal yang dibanggakan bersama.






