Ondoafi: Lahan Adat Tidak Dirampas, Masyarakat Papua Dukung Cetak Sawah

4 menit membaca
Ninding Yulius Permana
Nasional, News - 06 Jun 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Pemilik Hak Ulayat Ondoafi Willhelmus Rollo menyatakan masyarakat adat menerima dan antusias terhadap program pengembangan pertanian yang dijalankan Kementerian Pertanian di Papua. Ia menegaskan, selama program berjalan tidak pernah terjadi perampasan lahan adat.

“Kami dari pihak pemilik hak ulayat sangat menerima dan antusias untuk membangun perekonomian rakyat pada umumnya,” ujar Willhelmus dikutip Sabtu (5/6/2026).

“Kalau untuk perampasan-perampasan hak tanah dan lain sebagainya kalau di sini tidak ada. Kami tidak merasa bahwa tertindas dengan hal-hal yang tidak ini seperti daerah-daerah lain,” tegasnya.

Willhelmus menjelaskan, lahan yang saat ini telah dibuka baru sekitar 100 hektare. Masih terdapat potensi lahan tidur yang cukup luas dan siap dikembangkan. “Ya kurang lebih 1.000 hektare masih ada lahan tidur kami. Dan kami siap menerima untuk membuka lagi itu semua,” katanya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Papua Barat Lodwik Anari menilai pembangunan pertanian yang dijalankan pemerintah pusat kini mulai dirasakan manfaatnya. “Sekarang pemerintah perhatikan lewat pembangunan khususnya di pertanian itu sudah dilaksanakan sekarang, mulai baik dari Papua maupun Papua Barat dan setanah Papua sudah ada pembangunan yang nyata untuk masyarakat,” ujarnya.

Kebutuhan pengembangan sawah di Papua Barat masih sangat besar. Pemerintah daerah telah mengusulkan tambahan areal cetak sawah. “Kalau kami di Papua Barat, khususnya kami butuh pembangunan pertanian, khususnya cetak sawah. Itu masyarakat butuh dan saat ini lahannya sudah siap. Ada sekitar 2 ribu hektare tambahan. Dari awalnya 3 ribu sekian, tambahan 2 ribu. Dan kita sudah laporkan dan minta ke Bapak Menteri Pertanian,” katanya.

Lodwik menegaskan, program cetak sawah sepenuhnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Cetak sawah saya kira untuk masyarakat, untuk kehidupan masyarakat. Lahannya masyarakat punya. Kita cuma fasilitasi pembangunannya saja, untuk cetak sawahnya saja. Terus lahan dan hasilnya juga masyarakat yang menikmati,” ujarnya.

“Pemerintah tidak ambil lahan milik masyarakat. Pemerintah cuma fasilitasi dengan alat dan lain sebagainya untuk pengolahannya. Saya pikir kalau memang ini benar-benar terjadi perubahan untuk masyarakat,” lanjutnya.

Mayoritas masyarakat Papua mendukung pembangunan pertanian karena memberikan manfaat langsung. “Yang saya ikuti perkembangan di Papua, khususnya di Papua Barat, itu mereka untuk cetak sawah mendukung sekali. Mereka mendukung untuk pembangunan, untuk kehidupan masyarakat. Terus kita juga harus jaga masyarakat punya lahan, mana yang kita pakai untuk cetak sawah, mana yang tidak,” katanya.

Pembangunan pertanian di Papua tidak hanya mengembangkan komoditas padi, tetapi juga tetap memperhatikan pangan lokal. “Ada padi, juga ada lahan untuk ubi kayu. Ada kehidupan masyarakat pangan lokal juga,” ujarnya.

Manager Balai Pengelola Bendung Tami, Rahman, mengatakan lahan adat yang diolah bersama masyarakat mampu menghasilkan produktivitas tinggi. “Lahan yang kita olah saat ini merupakan lahan adat yang dikelola bersama masyarakat. Produksinya bisa mencapai 5 sampai 6 ton per hektare. Untuk itu saya berterima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian yang sudah membuat program perluasan sawah ini. Mudah-mudahan kita semua bisa mensukseskan program Pak Menteri untuk menjadi swasembada pangan lokal maupun nasional,” kata Rahman.

Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Bendung Tami, Yusuf Wona, mengaku merasakan langsung manfaat program pemerintah. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada program pemerintah ini. Karena dengan program pemerintah ini dapat membantu kami khususnya di wilayah Papua dalam menjaga ketahanan pangan,” ungkapnya.

Petani milenial Orang Asli Papua di Merauke, Roby Basik Basik, mengaku kehidupannya berubah signifikan sejak menekuni sektor pertanian. “Saya rasakan lebih enak, lebih sukses. Sampai saya bisa bangun rumah itu, ini pribadi saya. Itu gara-gara saya garap tanam padi dan pertanian,” ujarnya.

Pertanian juga menjadi sumber penghidupan yang memungkinkannya menyekolahkan anak-anak hingga meraih berbagai profesi. “Anak-anak semua sekolah. Ada yang jadi tentara, ada yang jadi Kowad, ada yang bekerja di kesehatan. Itu dari pertanian saya usahakan,” katanya.

Roby menyebut kondisi tanaman padi yang dibudidayakan tumbuh dengan baik. “Hasilnya tetap baik,” ujarnya. Ia berharap dukungan pemerintah terhadap petani terus diperkuat. “Kalau untuk saya dari pemerintah, saya punya pengharapan. Untuk seterusnya itu saya harus bina, saya punya keluarga. Saya harus berjuang, harus semua harus begitu sama-sama. Harus bertani,” ungkapnya.

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
1 month ago
1 month ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!