Cabai Rawit Tembus Rp200 Ribu di Papua Picu Inflasi Februari

2 menit membaca
Nandang Permana
Nasional, News - 23 Feb 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Lonjakan harga cabai rawit merah menjadi motor utama kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Februari 2026. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan eskalasi harga cabai rawit yang signifikan baik secara nilai maupun luasan wilayah yang terdampak.

Hingga pekan ketiga Februari, tercatat sebanyak 230 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH. Angka ini meningkat dari pekan sebelumnya yang hanya mencakup 199 daerah. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengonfirmasi bahwa komoditas cabai rawit memberikan kontribusi kenaikan yang sangat menonjol.

“Cabai rawit ini mengalami peningkatan yang tergolong cukup tinggi sekali,” ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan secara daring, Senin (23/2/2026).

Berdasarkan catatan otoritas statistik, harga rata-rata nasional cabai rawit pada pekan kedua Februari melambung hingga 19,89 persen, bergerak dari Rp57.492 menjadi Rp68.928 per kilogram. Gejolak harga ini kini menyentuh hampir 60 persen wilayah di Indonesia.

Namun, tantangan terbesar terletak pada ketimpangan harga antarwilayah yang sangat lebar. Di saat beberapa daerah masih mencatat harga Rp23.000 per kilogram, wilayah pedalaman seperti Kabupaten Nduga, Papua, harus menghadapi harga ekstrem.

“Harga tertingginya sampai Rp200 ribu. Ini di Kabupaten Nduga,” tambah Ateng.

Pemerintah mengidentifikasi bahwa hambatan pasokan di sejumlah sentra produksi menjadi akar masalah. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Agung Sunusi, menjelaskan bahwa meskipun panen telah dimulai di 21 kabupaten/kota, distribusinya belum merata ke seluruh pasar nasional.

Salah satu kendala unik terjadi di Lombok Timur, NTB, yang merupakan salah satu lumbung cabai nasional. Faktor sosiokultural menjelang bulan suci Ramadan menyebabkan aktivitas pemetikan di tingkat petani sempat terhenti.

“Ada permasalahan historikal di sana, di mana tiga hari sebelum puasa tidak ada aktivitas pemetikan,” jelas Agung. Ia memproyeksikan situasi akan kembali normal dalam satu pekan setelah puasa dimulai.

Guna meredam volatilitas harga, Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan telah memulai aksi guyur pasokan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, sejak 19 Februari. Pasar ini dipilih karena statusnya sebagai barometer harga pangan nasional.

Skema intervensi ini melibatkan para petani binaan (champion) untuk menyuplai pasokan langsung ke pasar induk. Pemerintah menetapkan struktur harga yang terkendali dengan harga di tingkat petani Rp50.000 per kg, harga di pedagang pasar induk Rp55.000 per kg, dan target harga konsumen Rp60.000 hingga Rp65.000 per kg.

Melalui penguatan stok dan mulainya puncak panen raya di sejumlah sentra dalam dua pekan ke depan, pemerintah optimis tekanan inflasi dari komoditas cabai akan melandai secara bertahap.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!