Gubenrnur Jawa Barat, Dedi Mulyadi/Foto:Humas Pemkab IndramayuIndoragamnewscom, JAKARTA-Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi derasnya kritik publik terhadap kepemimpinannya dengan sikap terbuka. Alih-alih defensif, Dedi justru memandang kritik sebagai tanda sehatnya demokrasi dan bukti bahwa pemerintah masih berada dalam pengawasan masyarakat.

Menurutnya, kritik baik yang disampaikan secara wajar hingga tajam menunjukkan kepedulian publik terhadap jalannya pemerintahan dan kualitas pembangunan di Jawa Barat.
“Dan bagi yang mengkritik dalam setiap hari, baik kritiknya yang biasa-biasa saja atau kritiknya yang tajam, kadang membabi buta, saya pun terima kasih. Saya dikritik artinya saya diperhatikan,” ujar Dedi, dikutip dari akun media sosialnya, Selasa (3/2/2026).
Dedi menegaskan, kritik merupakan elemen penting dalam sistem demokrasi. Bagi dia, pengawasan publik dalam bentuk kritik maupun sindiran justru menjadi alarm awal bagi pemerintah untuk melakukan koreksi sebelum kesalahan semakin besar.

Ia mengakui, tidak semua kritik disampaikan secara terbuka. Namun, sindiran hingga komentar bernada sinis tetap ia anggap sebagai bentuk perhatian masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
“Saya dalam setiap waktu diberikan sindiran-sindiran, berarti anda mencintai saya. Cuman anda gak berani terbuka menyatakan cinta, cara mencintainya dengan mengkritik,” ucapnya.
Lebih jauh, Dedi memandang perbedaan sikap antara pendukung dan pengkritik sebagai hal yang wajar dalam demokrasi. Ia menolak dikotomi pro dan kontra dalam menilai kualitas kepemimpinan.
“Untuk itu yang membela dan yang mengkritik, dua-duanya sahabat saya karena demokrasi itu di dalamnya. Ada yang mendukung dan ada yang tidak mendukung,” katanya.
Menurut Dedi, gesekan pendapat justru melahirkan energi korektif. Ia mengibaratkan perbedaan pandangan sebagai muatan positif dan negatif yang menciptakan daya dorong bagi perbaikan kebijakan publik.
Kritik terhadap kualitas pembangunan, terutama infrastruktur, disebutnya sebagai masukan konkret yang harus ditindaklanjuti pemerintah daerah. Ia mencontohkan persoalan jalan rusak atau fasilitas umum bermasalah sebagai sinyal perlunya evaluasi menyeluruh di lapangan.
“Ini jalan baru dibangun sudah jebol lagi berarti jelek. Terima kasih saya dikritik itu karena dengan itu perbaikan akan dilakukan,” ujarnya.
Dedi menegaskan, tidak ada pembangunan yang sempurna tanpa keberanian mengakui kesalahan. Justru dari kritik dan temuan di lapangan, pemerintah bisa memperbaiki kualitas pelayanan publik secara berkelanjutan.
“Karena kesempurnaan akan diraih dengan ditemukannya berbagai kesalahan,” tandasnya.







Tidak ada komentar