Waduk Darma di Kuningan menyimpan sejarah kelam delapan desa tenggelam dalam pembangunannya. Kini jadi destinasi wisata favorit dengan perahu dan area kemah/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Hamparan air seluas 425 hektar membentang di antara perbukitan hijau. Perahu-perahu wisata melunuh pelan di permukaan yang tenang. Di kejauhan, Gunung Ciremai menyapa dari balik kabut tipis.

Itulah pemandangan rutin di Waduk Darma, Kuningan, Jawa Barat. Tapi di balik ketenangan itu, menyimpan kisah kelam: delapan desa harus tenggelam agar bendungan ini berdiri.
Waduk yang berlokasi di Desa Jagara, Kecamatan Darma, sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Kuningan ini memiliki kapasitas tampung 37,9 juta meter kubik air. Fungsinya vital: mengairi lahan pertanian seluas 22.600 hektare di Kuningan dan Cirebon, sekaligus memasok air baku untuk PDAM.
Sejarah pembangunannya sangat panjang. Cikal bakalnya dimulai tahun 1920-an, ketika Pabrik Gula Tersana Baru mengusulkan pembangunan waduk kepada Residen Cirebon untuk memenuhi kebutuhan kebun tebu di musim kemarau.

Pemerintah Hindia Belanda merespon. Pada 1924, Ir. G.A. de Jengh melakukan studi kelayakan. Penelitian geologi dan tanah menyusul pada 1935-1936. Bahkan, pintu bendungan sudah dipesan dari Swiss pada 1939 dan mulai dikirim dua tahun kemudian.
Semua rencana buyar saat Perang Dunia II meletus. Jepang mengambil alih kekuasaan pada 1942. Pembangunan terhenti. Pintu bendungan yang seharusnya tiba di Jakarta dialihkan ke Australia.
Baru pada 1958, pemerintah Indonesia melanjutkan proyek yang mangkrak selama 16 tahun. Pembangunan rampung pada 1962. Konsekuensinya berat: delapan desa harus ditenggelamkan untuk mengisi cekungan waduk.
Selesai dibangun, masalah lain muncul. “Setelah waduk ini mulai dioperasikan, ditemukan kebocoran yang cukup besar di dasar bendungan,” demikian catatan Wikipedia. Rerata volume air yang bocor mencapai 33,1 juta meter kubik per tahun.
Penyebabnya diduga karena pemadatan urugan bendungan yang dilakukan tergesa-gesa. Alasannya? Ancaman gangguan dari DI/TII kala itu. Perbaikan besar-besaran baru dilakukan pada 1975.
Kini, bekas luka itu sudah terlupakan. Waduk Darma justru bertransformasi menjadi destinasi wisata unggulan Kuningan. Setiap akhir pekan, sedikitnya 800 wisatawan datang. Saat libur panjang, pengunjung bisa mencapai ribuan.
Pengunjung bisa menyewa perahu untuk berkeliling waduk, berkemah di area yang disediakan, atau sekadar duduk di gazebo sambil menikmati angin sepoi. Fasilitas yang tersedia meliputi area perkemahan, penginapan, panggung hiburan, wahana permainan anak, hingga spot foto dengan berbagai ornamen.
Tiket masuknya ramah di kantong. Hari biasa, pengunjung membayar Rp17.500. Akhir pekan atau libur nasional, Rp20.000. Area parkir luas, mampu menampung hingga 100 bus dan 200 mobil.
Waduk Darma juga menyimpan legenda. Masyarakat setempat meyakini waduk ini dulunya tempat bermain Pangeran Gencay, putra kesayangan Mbah Dalem Cageur. Saat pangeran bermain di atas perahu, penduduk menabuh gamelan yang kemudian diberi sebutan ‘Muncul Goong’.
Tragisnya, Pangeran Gencay dan teman-temannya tenggelam akibat perahu yang mereka tumpangi rusak. Lokasi kejadian itu dinamai ‘Labuhan Bulan’ karena peristiwa naas terjadi di malam purnama.
Ada juga mitos soal siluman belut putih raksasa yang konon menjadi penjaga waduk. Bahkan, cerita soal larangan pasangan berkunjung jika tak ingin putus—meski para tokoh setempat telah menepisnya sebagai rumor tak berdasar.
Bagi yang ingin berkemah tanpa repot membawa perlengkapan, tersedia fasilitas sewa tenda Rp350.000 untuk kapasitas empat orang. Dengan tambahan biaya Rp100.000, termasuk makanan.
Dari delapan desa yang tenggelam, kini lahir destinasi yang membanggakan. Air yang dulu menggenangi pemukiman, kini mengairi ribuan hektare sawah, mengalirkan air bersih ke ribuan rumah, dan membawa perahu-perahu kecil yang membawa senyum pengunjung.







Tidak ada komentar