Gua Sunyaragi di Cirebon, kompleks pertapaan dengan 13 gua yang dibangun tiga periode sejak 1536 M. Pernah jadi markas perlawanan melawan Belanda/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Di tengah kota Cirebon, Jawa Barat, berdiri sebuah kompleks taman air yang menyimpan kisah spiritual sekaligus strategi perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Taman Air Gua Sunyaragi dengan luas sekitar 15 hektar memiliki 13 gua yang saling terhubung melalui rongga-rongga gelap dan lorong sempit.
Dibangun sejak 1536 Masehi atas prakarsa Pangeran Emas Zaenul Arifin—cicit Sunan Gunung Jati—tempat ini berfungsi sebagai lokasi pertapaan, tempat perjamuan keluarga keraton, hingga markas rahasia membangun kekuatan melawan penjajah.
Secara etimologi, Sunyaragi berasal dari dua kata: sunyi dan raga, yang berarti tempat untuk menyucikan raga atau bertapa. Kompleks ini dibangun untuk menggantikan Giri Septa Rengga yang telah berubah fungsi menjadi Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati beserta keluarganya.

Pembangunan Gua Sunyaragi terbagi dalam tiga periode, masing-masing dengan ciri khas arsitektur dan fungsi yang berbeda.
Periode pertama dimulai pada zaman Panembahan Pakuwati I pada 1458 Saka atau 1536 M. Dipimpin oleh Pangeran Emas Zaenul Arifin, pembangunan ini melibatkan arsitek Pangeran Sepat dari Demak, Pangeran Losari, dan orang-orang Tionghoa pengikut Putri Ong Tien Nio (istri Sultan Gunung Jati).
Pada periode ini dibangun Gua Pengawal, Gua Pawon, Gua Lawa, Gua Padang Ati, Gua Kelanggengan, dan Gua Peteng. Di atas gua-gua tersebut terdapat menara pengawas yang berfungsi memantau keadaan sekitar.
Selain itu, terdapat lubang dangkal yang tertutup, yang konon merupakan jalan rahasia menuju kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati yang berjarak sekitar 112 kilometer dari lokasi.
Periode kedua berlangsung pada zaman Sultan Sepuh Pangeran Jamaludin II pada 1625 S atau 1703 M. Adik sultan, Pangeran Arya Carbon Kararangen, berinisiatif memperluas kompleks dengan membangun Gua Arga Jumut, Bale Kambang, dan Mande Beling.
Bangunan-bangunan ini difungsikan sebagai tempat perjamuan, perundingan, dan tempat bersantai keluarga keraton. Arsitektur periode ini mencerminkan akulturasi budaya Sunda, Jawa, dan Tionghoa yang semakin kental.
Periode ketiga dibangun oleh Sultan Sepuh V Pangeran Syaifiudin, dikenal dengan sebutan Pangeran Matanghaji, pada abad ke-18, dibantu arsitek dari Tiongkok. Kompleks Gua Sunyaragi ditambah dengan Gua Pande Kemasan dan Gua Simanyang.
Pada periode ini pula dibangun Bangsal Jinem, tempat sultan memberi pengarahan dan doa kepada para prajurit. Pada masa ini, Taman Air Gua Sunyaragi memiliki fungsi ganda: selain sebagai tempat rekreasi keluarga keraton, juga dijadikan markas untuk membangun kekuatan melawan Belanda. Informasi ini kemudian dibocorkan oleh arsitek Tionghoa yang bekerja sama dengan Belanda.
Secara teknis, bangunan Gua Sunyaragi menggunakan teknologi maju pada masanya. Putih telur digunakan sebagai media perekat batu, menciptakan konstruksi yang kokoh hingga saat ini.
Keberadaan lubang-lubang ventilasi juga menunjukkan pemahaman arsitek tentang sirkulasi udara di dalam gua, sehingga meskipun berada di dalam ruangan gelap dan sempit, pengunjung tetap bisa bernapas lega.
Taman Air Gua Sunyaragi juga dilengkapi bangunan berbentuk podium dengan tribun penonton yang digunakan untuk acara pertunjukan tradisional, seperti sendang tari khas Cirebon atau tari topeng Cirebon. Fungsi ini menjadikan kompleks tersebut tidak hanya sebagai tempat spiritual dan strategis, tetapi juga pusat kebudayaan bagi masyarakat Keraton Kasepuhan Cirebon.
Kompleks ini pernah dipugar oleh Dinas Purbakala Belanda pada 1936, kemudian dipugar kembali pada 1978 oleh Dinas Purbakala Republik Indonesia tanpa menambahkan atau mengurangi bagian asli bangunan. Konservasi ini menjaga keaslian arsitektur sekaligus mempertahankan jejak sejarah yang terkandung di dalamnya.
Menyusuri gua demi gua dan lorong-lorong penghubung di kompleks ini memberikan gambaran tentang kecanggihan leluhur Nusantara.
Setiap gua memiliki karakter dan suasana yang berbeda: ada yang digunakan untuk meditasi, ada yang untuk menyimpan pusaka, ada pula yang difungsikan sebagai tempat berkumpul. Hingga kini, Gua Sunyaragi tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga tempat yang masih digunakan sebagian masyarakat untuk melakukan tapa atau meditasi.






