Seorang muslim sedang membersihkan kaki dengan air secukupnya saat berwudhu, menggambarkan efisiensi penggunaan air sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Krisis iklim kian mengkhawatirkan. Kesadaran untuk berhemat air bukan sekadar aksi menyelamatkan lingkungan biasa, melainkan bagian dari ketaatan beragama karena Islam sangat melarang perilaku boros.
Grand Syekh al-Azhar, Syekh Ahmad Thayyeb, menyebut Al-Qur’an mengingatkan bahwa pemborosan adalah pintu menuju sifat setan.

Firman Allah dalam QS Al-Isra ayat 26-27: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Imam besar Al-Azhar itu menegaskan bahwa keteladanan dalam menjaga kelestarian air telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW jauh sebelum krisis air menjadi isu global. Beliau pernah menegur sahabat Abdullah bin Amru RA yang sedang berwudhu dengan air berlebihan.
Ketika sahabat itu bertanya apakah ada pemborosan dalam wudhu, Rasulullah SAW menjawab, “Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Hal ini mengajarkan bahwa melimpahnya sumber daya alam bukanlah alasan bagi manusia untuk membuang-buangnya secara cuma-cuma. Rasulullah SAW sendiri menunjukkan efisiensi luar biasa dalam menggunakan air. Beliau mampu mandi hanya dengan satu sha’ (sekitar 2,5 liter) dan berwudhu hanya dengan satu mud (sekitar 0,6 liter).
Sebagaimana hadis dari Anas bin Malik RA: “Nabi Muhammad SAW mandi dengan satu sha’ hingga lima mud, dan beliau berwudhu dengan satu mud” (HR Bukhari).
Setiap tetes air yang kita selamatkan dengan menutup keran rapat-rapat adalah bukti nyata kepedulian terhadap krisis iklim sekaligus kepatuhan kepada Sang Pencipta. Sekecil apa pun usaha untuk tidak berlebih-lebihan, Allah Yang Maha Melihat pasti akan memperhitungkannya sebagai pahala dan kebaikan.
Wallahu a’lam.







Tidak ada komentar