Ilmu Tanpa Amal: Imam Malik bin Dinar Peringatkan Bahaya Kesombongan Intelektual

2 menit membaca
Fitri Sri
Khazanah - 14 Mei 2026

Indoragamnewscom-Ilmu dalam paradigma modern kerap direduksi menjadi sekadar gelar akademik dan penguasaan wacana. Akibatnya, ia tidak lagi diposisikan sebagai sarana pembentukan akhlak, melainkan alat legitimasi diri.

Tradisi intelektual Islam sejak awal menempatkan ilmu dalam kerangka berbeda: bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan.

Imam Malik bin Dinar, seorang tabi’in yang dikenal dengan kezuhudan dan kedalaman spiritualnya, memberikan peringatan tegas. Nasihat yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Az-Zuhd ini berbunyi: ilmu yang dicari untuk diamalkan akan membahagiakan pemiliknya. Sebaliknya, ilmu yang dicari bukan untuk diamalkan hanya akan melahirkan rasa bangga diri (fakhran).

Pernyataan Malik menunjukkan ilmu tidak bersifat netral. Jika diarahkan kepada amal, ia menjadi cahaya yang menenteramkan. Jika berhenti pada tataran wacana, ilmu justru berpotensi menumbuhkan kesombongan dan kelelahan spiritual.

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa orang berilmu sejati adalah mereka yang memiliki rasa takut kepada Allah (QS. Fathir [35]: 28). Ayat ini menegaskan buah utama ilmu bukanlah keunggulan intelektual, melainkan transformasi batin. Ilmu yang benar akan melahirkan kesadaran akan keterbatasan diri di hadapan Tuhan, bukan keangkuhan di hadapan manusia.

Dalam Ihya Ulumiddin, Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu tanpa amal justru menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya. Semakin luas pengetahuan, semakin besar tanggung jawab moral yang harus dipikul. Tanpa amal, ilmu berubah dari nikmat menjadi beban.

Istilah fakhran yang digunakan Malik merujuk pada kebanggaan diri berlebihan. Dalam konteks kekinian, fenomena itu tampak dalam bentuk kesombongan intelektual, merasa paling benar, dan sulit menerima perbedaan pandangan. Ilmu kehilangan fungsi etisnya ketika dijadikan alat superioritas.

Abdullah bin al-Mubarak menegaskan bahwa seseorang belum layak disebut alim sebelum mampu menghargai orang lain, apa pun latar belakangnya. Ilmu yang diamalkan melahirkan ketenangan batin, kepuasan moral karena hidup selaras antara pengetahuan dan perbuatan.

Pada akhirnya, nasihat Imam Malik bin Dinar mengingatkan bahwa ilmu selalu menuntut pertanggungjawaban. Ia bisa menjadi sumber kebahagiaan atau petaka batin, tergantung orientasi penuntutnya. Pertanyaan terpenting bukanlah seberapa banyak yang telah dikuasai, melainkan sejauh mana ilmu itu telah membentuk akhlak.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

1 week ago
2 weeks ago
2 months ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!