Seorang ayah dan anak duduk bersama membaca Al-Qur’an dalam suasana tenang, menggambarkan parenting Islami ala sahabat Nabi/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Di tengah gempuran ambisi memberikan pendidikan setinggi-tingginya demi status sosial dan jaminan karir, sering kali orang tua lupa bahwa semua kebanggaan duniawi itu sifatnya sementara.

Sebagai seorang mukmin, mendidik anak bukan sekadar menyiapkan penerus garis keturunan, melainkan investasi paling berharga untuk kehidupan abadi kelak.
Kisah Abbas bin Abdul Muthalib dan putranya, Abdullah bin Abbas, menjadi teladan bagaimana visi parenting Islami mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga menjadi kebanggaan di pengadilan akhirat.
Dalam hierarki sosial kehidupan, perbedaan status yang ada di dunia pada hakikatnya hanyalah sebutan semata yang disematkan oleh manusia. Miliarder, pejabat tinggi, ilmuwan, atau rakyat biasa—semua akan kembali ke tempat yang sama. Di peristirahatan terakhir, tidak ada gelar akademik atau jabatan yang diukir di batu nisan secara abadi. Hanya satu gelar akhir yang setara bagi semua: almarhum atau almarhumah.

Mengejar pendidikan setinggi-tingginya, bahkan hingga ke universitas ternama di luar negeri, tentu diperbolehkan dan dianjurkan dalam Islam. Namun perlu diingat, persaingan duniawi murni bukanlah hal yang istimewa di mata Allah. Orang yang tidak beriman pun dapat menguasai ilmu matematika, fisika, kedokteran, atau meraih gelar doktor. Perlombaan yang sejati bagi seorang mukmin adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan abadi di akhirat, tempat di mana tidak ada lagi kematian.
Terkait visi pendidikan anak, ada teladan luar biasa dari lembaran sejarah Islam: kisah Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW, dan putranya, Abdullah bin Abbas. Abbas dikenal sebagai seorang pebisnis dan saudagar dengan jadwal sangat padat. Namun kesibukan duniawi tidak membuatnya buta terhadap pendidikan sang anak. Dalam benaknya terpatri sebuah visi, “Saya boleh saja sibuk mencari nafkah dan luput dari menyimak banyak hadits secara langsung, tapi anak saya mesti mendapatkan apa yang luput dari saya.”
Abbas kemudian memfasilitasi putranya yang masih belia untuk selalu lekat dan mengikuti keseharian Nabi Muhammad SAW. Berkat visi cemerlang sang ayah, Abdullah yang saat itu bahkan belum menginjak usia baligh mampu merekam, menghafal, dan meriwayatkan ribuan hadits penting. Ilmu yang diserap Ibnu Abbas kecil adalah ilmu aplikatif yang memandu umat Islam hingga hari ini, mulai dari sunnah tata cara bangun tidur Rasulullah, posisi makmum dalam shalat berjamaah, hingga tata cara dan rakaat shalat malam.
Hasil investasi pendidikan ini sungguh luar biasa. Abbas sendiri diperkirakan menghafal sekitar 200 hadits karena kesibukannya berdagang. Putranya, Ibnu Abbas, mampu menghafal dan meriwayatkan lebih dari 2.000 hadits. Inilah bukti nyata bahwa keterbatasan orang tua bukan halangan bagi anak menjadi sosok luar biasa, selama ada fasilitas dan arahan yang tepat.
Setiap kali hadits dari Ibnu Abbas disebutkan oleh para ulama, doa yang selalu terucap untuknya adalah radhiyallahu ‘anhuma—semoga Allah meridhai keduanya. Doa ini tidak hanya untuk sang anak yang meriwayatkan hadits, tetapi juga mengalir deras untuk ayahnya yang telah memfasilitasi pendidikannya. Aliran pahala yang tak terputus inilah yang disebut amal jariyah, investasi abadi yang tidak akan pernah habis meskipun orang tua telah tiada.
Kisah inspiratif dari keluarga Abbas menjadi pengingat bagi semua orang tua, terlepas dari latar belakang profesinya—baik diplomat, pekerja kantoran, pedagang pasar, maupun ibu rumah tangga. Boleh jadi seseorang merasa ibadahnya belum maksimal karena tuntutan pekerjaan dan lelahnya mengurus rumah tangga. Namun jangan biarkan tidak ada satu pun anak dari keluarga yang bisa diandalkan menjadi kebanggaan di pengadilan akhirat kelak.
Para ulama menyebut bahwa anak yang dekat dengan agama akan menjadi pelita yang menerangi rumah, penghilang rasa sedih, dan penawar kegelisahan. Tidak ada pemandangan yang lebih menenangkan hati bagi ayah atau ibu yang lelah seharian bekerja, selain mendapati buah hatinya sedang duduk tenang melakukan murojaah ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Mendidik anak dengan nilai-nilai keislaman tidak berarti mengabaikan pendidikan formal atau menutup pintu kesuksesan duniawi. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan. Yang menjadi pembeda adalah orientasi: apakah pendidikan semata-mata untuk mengejar status dunia yang fana, atau untuk membangun generasi yang shalih yang akan menjadi investasi abadi di akhirat.
Sebagaimana dikatakan Hasan al-Bashri, “Siapa yang hartanya berkurang karena sedekah, maka ia tidak rugi. Siapa yang merendahkan diri karena Allah, maka ia tidak hina. Dan siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka dunia akan datang kepadanya dalam keadaan terhina.” Mendidik anak dengan orientasi akhirat bukanlah merugikan, justru membuka pintu keberkahan di dunia sekaligus bekal abadi di akhirat.






