Situs Gunung Susuru Ciamis peninggalan Kerajaan Galuh Kertabumi /Foto: WikipediaIndoragamnewscom-Kabupaten Ciamis menyimpan memori sejarah yang kuat melalui Situs Gunung Susuru Ciamis, sebuah kompleks peninggalan era Kerajaan Galuh Kertabumi.

Berlokasi di Dusun Bundar, Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing, kawasan ini bukan sekadar bukit biasa, melainkan pusat pemerintahan yang didirikan oleh Putri Tanduran Ageung.
Sebagai putri dari Raja Galuh Salawe, Sanghyang Cipta, kehadiran sang putri di wilayah ini menandai perluasan pengaruh kekuasaan Galuh pada masa lampau melalui sistem pertahanan dan tata kota yang unik.
Asal-Usul Nama dan Punahnya Tanaman Endemik Susuru

Penamaan bukit ini diambil dari tanaman Susuru, sejenis kaktus yang dahulu tumbuh subur dan hanya ditemukan di area tersebut.
Pada masa kejayaan Galuh Kertabumi, tanaman Susuru berfungsi ganda sebagai penghias taman keraton sekaligus tanaman pagar alami untuk melindungi kompleks istana.
Namun, kondisi saat ini menunjukkan perubahan ekologis yang drastis karena tanaman khas tersebut telah dinyatakan punah dari habitat aslinya di bukit tersebut.
Arsitektur Pertahanan: Benteng Batu dan Pertemuan Dua Sungai
Secara geografis, Situs Gunung Susuru memiliki sistem pertahanan alami dan buatan yang sangat strategis. Posisi situs ini dijepit oleh dua aliran sungai besar, yaitu Sungai Cimuntur di sisi utara dan Sungai Cileueur di sisi selatan.
Kedua sungai ini bertemu di sebuah titik di sebelah timur yang dikenal dengan nama Patimuan.
Untuk melengkapi perlindungan alam tersebut, terdapat benteng kuno yang membentang sepanjang 2 kilometer di sisi barat, menghubungkan tepian Cimuntur hingga Cileueur. Struktur pertahanan ini memiliki spesifikasi teknis sebagai berikut:
Material: Susunan batu alam.
Tinggi: Rata-rata 1 meter.
Kondisi: Sebagian besar struktur tidak lagi utuh.
Faktor Kerusakan: Alih fungsi material batu oleh masyarakat setempat untuk pembangunan fondasi rumah di jalur pemukiman.
Temuan Gua Buatan dan Artefak Prasejarah
Pada tebing Gunung Susuru yang berbatasan langsung dengan aliran sungai, ditemukan lima buah gua.
Secara fisik, gua-gua tersebut dikategorikan sebagai artificial caves atau gua buatan manusia yang dipahat pada dinding tebing dengan kemiringan ekstrem mencapai 75 derajat.
Eksplorasi arkeologi di dalam gua-gua ini mengungkap sejumlah temuan penting yang mengindikasikan aktivitas manusia di masa lalu, di antaranya fragmen tembikar, fosil gigi manusia dan fosil gigi hewan.
Kompleks Makam Kuno dan Legenda Lokal
Selain peninggalan fisik bangunan, situs ini juga menjadi tempat persemayaman terakhir para penguasa Galuh Kertabumi.
Terdapat dua kompleks makam kuno utama yang hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat Dusun Bundar. Makam tersebut adalah milik Prabu Dimuntur dan Dewi Tanduran Ageung, atau yang secara lokal dikenal sebagai Tanduran Sari.
Keberadaan makam ini menjadi bukti fisik sekaligus penguat narasi sejarah mengenai silsilah kepemimpinan yang pernah eksis di wilayah Desa Kertabumi.







Tidak ada komentar