Pemandangan kemah pendaki Gunung Papandayan menjadi salah satu yang menarik di Gunung Papandayan/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Dari basecamp, bau belerang sudah menyambut. Menyengat, tapi entah kenapa justru membangkitkan selera untuk terus melangkah.

Gunung Papandayan di Garut, dengan ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut, bukan gunung tertinggi di Jawa Barat. Tapi ia punya magnet tersendiri: kawah aktif dengan 14 lubang kepulan asap, hamparan edelweis yang hanya tumbuh di ketinggian, serta pohon-pohon mati yang tegak kering bagaikan monumen erupsi 1772 .
Dua jalur pendakian tersedia: Cisurupan dan Pengalengan. Jalur Cisurupan yang jadi favorit pendaki pemula. Medannya relatif aman, tidak terlalu ekstrem, namun tetap menguji lutut di awal-awal pendakian karena bebatuan yang berserakan .
Setelah registrasi di basecamp, pendaki disuguhi pemandangan kawah Papandayan. Uap belerang mengepul dari celah-celah tanah, mengingatkan bahwa gunung ini masih hidup.

Dari kawah, jalur berlanjut menembus pepohonan rindang. Udara berubah sejuk. Daun-daun basah menyisakan embun. Hingga tibalah di Lawang Angin, sebuah celah di antara dua tebing yang menjadi persimpangan.
Tiga pilihan jalur terbentang. Kiri menuju Tegal Alun. Kanan menuju Ghober Hoet. Lurus ke Pengalengan.
Kebanyakan pendaki memilih Pondok Saladah, area camping ground yang dilengkapi warung, toilet, musala, dan sumber air bersih dari sungai kecil . Di sinilah tenda-tenda didirikan. Di sinilah para pendaki beristirahat setelah perjalanan dua jam dari basecamp.
Pondok Saladah juga menjadi lokasi terbaik untuk menikmati edelweis tanpa harus ke puncak. Bunga abadi itu tumbuh di sekitar area perkemahan, meski tak sebanyak di Tegal Alun.
Dari Pondok Saladah, pendaki yang ingin mencapai titik tertinggi harus melewati Hutan Mati terlebih dahulu. Kawasan ini terbentuk akibat erupsi 1772. Pohon-pohon hangus berdiri kering, tanpa daun, tanpa warna. Kontras dengan langit biru, pemandangan ini jadi incaran para fotografer.
Tegal Alun adalah rimba edelweis. Padang bunga putih keabuan yang luas, hanya tumbuh di atas ketinggian 2.000 meter. Di sini pendaki dilarang mendirikan tenda dan dilarang memetik bunga. Butuh lima tahun bagi edelweis untuk tumbuh dan berbunga kembali.
Dari puncak ini, matahari terbit dan terbenam terlihat tanpa halangan. Kabut kadang turun, menyelimuti Hutan Mati dengan jarak pandang terbatas. “Hindari berjalan saat kabut tebal,” peringatan dari pemandu gunung.
Gunung Papandayan memang ramah pemula. Tapi ia tetap gunung berapi aktif. Bau belerang, tanah berbatu, dan kabut yang tiba-tiba adalah pengingat: alam tak pernah sepenuhnya jinak.







Tidak ada komentar