Keraton Surosowan, Saksi Runtuhnya Kejayaan Banten di Tengah Benteng Belanda

2 menit membaca
Fazar Eka
Hiburan - 28 Feb 2026

Indoragamnewscon-Reruntuhan Keraton Surosowan di kawasan Banten Lama menyisakan cerita tentang kejayaan kerajaan Islam abad ke-16 yang porak-poranda setelah dua kali dihancurkan Belanda, meninggalkan benteng setebal dua meter dan kolam pemandian putri-putri sultan.

Sebelah utara 14 kilometer dari Kota Serang, tepatnya di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, kawasan Banten Lama, terdapat reruntuhan bangunan yang tenggelam bersama kejayaan Kerajaan Banten. Bangunan ini dahulu menjadi pusat kerajaan dan tempat tinggal sultan bersama keluarga serta pengikutnya.

Keraton Surosowan diperkirakan dibangun antara tahun 1526 hingga 1570 saat pemerintahan Sultan Banten pertama, Sultan Maulana Hasanudin. Sejarah pembangunan keraton ini tidak lepas dari pemberian wilayah yang diserahkan Sunan Gunung Jati kepada putranya, Sultan Maulana Hasanudin.

Layaknya keraton di Jawa, Keraton Surosowan berfungsi sebagai tempat tinggal sultan beserta keluarga dan pengikutnya, juga menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Banten.

Hal ini terlihat dalam tata pola yang mengikuti kerajaan Islam lainnya di Jawa, dengan alun-alun di sebelah utara, Masjid Agung di bagian barat, serta pasar dan pelabuhan di sisi timur dan utara keraton.

Bentuk keraton mengalami perubahan saat pemerintahan dipimpin Sultan Haji pada tahun 1672 hingga 1687. Pembangunan ini dilakukan karena keraton mengalami kehancuran akibat serangan Belanda pada tahun 1680.

Dibantu ahli bangunan asal Belanda bernama Hendrik Lucasz, Keraton Surosowan dibangun dengan penambahan dinding di bagian sisinya.

Dinding berupa benteng setinggi dua meter dengan lebar lima meter ini dibangun untuk meminimalisir serangan Belanda yang pernah menyerang keraton. Atas jasanya, ahli bangunan berkewarganegaraan Belanda yang masuk Islam itu diberi gelar oleh Sultan dengan nama Pangeran Wiraguna.

Ketika Belanda menyerang kembali, Keraton Surosowan menjadi sasaran utama dengan penghancuran kota, memaksa Sultan dan penghuninya meninggalkan keraton. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1813 saat Gubernur Jenderal Belanda dipimpin Herman Daendels.

Sisa-sisa inilah yang kini terlihat dalam reruntuhan. Bangunan keraton yang menggunakan bahan bata campuran pasir dan kapur sebagai bahan dasarnya menjadi saksi kehebatan Kerajaan Banten pada abad ke-17.

Walaupun hanya berupa reruntuhan, keraton yang disebut juga Benteng Surosowan ini masih memiliki beberapa sisa ruang yang dapat dilihat, seperti gerbang di bagian utara serta kolam dan tempat beristirahat bernama Bale Kambang Rara Denok.

Kolam berbentuk segi empat dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter itu menjadi tempat peristirahatan bagi putri-putri sultan. Luas benteng bersejarah yang mencapai empat hektar ini membuat Pemerintah Provinsi Banten menetapkan reruntuhan tersebut sebagai cagar budaya yang dilindungi karena kaya akan sejarah Banten.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!