Tiga Rasio di Satu Film, Jay Sukmo Bikin Penonton Merasa Takut Bukan Sekadar Kaget

2 menit membaca
Nita Susilawati
Hiburan - 29 Apr 2026

Indoragamnewscom-Satu lonceng tua menggantung di sebuah pulau. Warga percaya, di dalamnya terkurung roh-roh jahat yang tak bisa lagi merasakan kedamaian. Lonceng itu tak pernah dibunyikan. Sampai sekelompok pemburu konten datang, merekam semuanya untuk sensasi, lalu menyebarkannya ke dunia.

Mereka tak sadar, Penebok kini sudah bebas.

Film The Bell: Panggilan untuk Mati garapan sutradara Jay Sukmo ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 7 Mei 2026 . Produksi MBK Production bersama Sinemata ini mengangkat urban legend asli Pulau Belitung, bukan sekadar memindahkan cerita horor populer ke latar desa.
Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah bernama Penebok menjadi ikon horor baru yang berakar dari folklore setempat.

“Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare,” ujar Jay Sukmo dalam keterangan resmi .

Yang membedakan film ini dari horor pada umumnya adalah pendekatan sinematografinya. Jay Sukmo menggunakan tiga aspek rasio gambar berbeda untuk membedakan tiap periode waktu dalam cerita.

Pergantian zaman, dari masa kolonial hingga era digital, ditandai dengan perubahan bentuk layar yang membuat penonton merasakan lompatan waktu tanpa perlu penjelasan bertele-tele.

Film ini bercerita tentang Danto (Bhisma Mulia) dan Airin (Ratu Sofya) yang ikut terseret dalam rangkaian teror setelah lonceng keramat itu dicuri. Penebok mulai memburu satu per satu orang yang mendengar dentingan. Setiap bunyi lonceng berarti satu nyawa melayang, satu kepala ditemukan terpisah dari tubuhnya.

Mathias Muchus, yang memerankan karakter Tuk Bahrun, menilai kehadiran Penebok dalam film ini sebagai upaya mengangkat kekuatan budaya lokal.

“Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga memperkenalkan Penebok sebagai bagian dari mitos yang hidup di masyarakat. Bagi saya, ini menarik karena horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tetapi memiliki akar budaya dan makna yang kuat,” ujarnya.

Selain Bhisma Mulia dan Ratu Sofya, film ini diperkuat Shalom Razade, Givina Dewi, Septian Dwi Cahyo, Nabil Lunggana, dan Maulidan Zuhri. Seluruh proses syuting dilakukan di Pulau Belitung, menjadikan lokasi bukan sekadar latar tetapi elemen penting pembangun atmosfer cerita.

Produser Eksekutif Budi Yulianto mengungkapkan bahwa ide film ini berakar dari urban legend di Belitung, tanah kelahirannya. “Kami hadir kembali dengan genre yang berbeda, perpaduan antara horor dengan romance. Sesuatu yang mungkin berbeda di dunia perfilman Indonesia,” katanya.

The Bell juga akan diputar di Cannes Film Market yang berlangsung 12 hingga 20 Mei 2026.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

4 weeks ago
4 weeks ago
1 month ago
1 month ago
1 month ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!