Gedung Kantor Kementerian Luar Negeri/Foto: IstimewaIndoragamnewscom, JAKARTA-Pemerintah Indonesia secara resmi menyerukan penghentian serangan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sekaligus meminta Teheran tidak menargetkan negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

Seruan ini disampaikan menyusul eskalasi konflik bersenjata sejak 28 Februari 2026 yang telah menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk ratusan anak-anak.
Kementerian Luar Negeri RI dalam keterangan tertulis menyatakan keprihatinan mendalam atas meluasnya ketegangan dan dampak kemanusiaan di Timur Tengah.
“Pemerintah Indonesia menyerukan kepada Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan serangan terhadap Iran,” demikian pernyataan Kemlu RI melalui media sosial X.

“Kepada Iran untuk menghentikan serangan yang menargetkan negara-negara tetangga di kawasan, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Oman, Bahrain, Kuwait, dan Yordania,” bunyi keterangan tersebut.
Indonesia menegaskan kembali kewajiban semua pihak untuk menegakkan prinsip-prinsip hukum internasional, khususnya mengenai larangan penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah suatu negara.
Pemerintah RI mendorong agar ketegangan segera diredakan dan langkah negosiasi melalui dialog dan diplomasi kembali ditempuh.
Sebagai implementasi politik luar negeri bebas aktif, Indonesia mengambil tiga langkah konkret. Pertama, mengeluarkan pernyataan resmi mendesak penghentian kekerasan dan de-eskalasi.
Kedua, mengintensifkan komunikasi diplomatik dengan negara-negara kawasan. Menteri Luar Negeri Sugiono telah berkomunikasi dengan para menteri luar negeri Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, sementara Presiden Prabowo Subianto berkomunikasi dengan pemimpin UEA, Emir Qatar, dan Raja Yordania.
Ketiga, pemerintah memprioritaskan perlindungan Warga Negara Indonesia di kawasan Timur Tengah. Kemlu RI memantau secara dekat dampak konflik terhadap WNI dan telah menyiapkan langkah kontingensi jika kondisi mengharuskan dilakukannya repatriasi dari berbagai negara.
Sebanyak 32 WNI yang dievakuasi dari Iran dijadwalkan tiba di Jakarta setelah mencapai Baku, Azerbaijan, untuk pemeriksaan kesehatan sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026. Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengungkapkan bahwa hampir 30 persen korban tewas dalam serangan tersebut adalah anak-anak.
“Sayangnya, hingga saat ini, hampir 30 persen dari korban tewas adalah anak-anak,” kata Mohajerani seperti dikutip oleh stasiun televisi SNN pada Jumat (6/3/2026).
Yayasan Martir dan Urusan Veteran Iran melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan tersebut mencapai 1.230 orang.
Selain korban jiwa, sekitar 3.090 bangunan tempat tinggal, 528 toko, dan 13 fasilitas medis, termasuk sembilan lokasi Bulan Sabit Merah Iran, turut terkena dampak. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk.
Indonesia, sejak awal eskalasi, telah menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi perundingan antara pihak-pihak yang berkonflik demi menciptakan kembali kondisi keamanan yang kondusif di kawasan.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto, menegaskan Indonesia berharap dapat bertindak sebagai broker jujur daripada mengambil sikap memihak.
“Sebagai implementasi kebijakan luar negeri bebas aktif kami, dan tentunya amanat konstitusi untuk ikut serta memelihara ketertiban dunia, Indonesia berharap dapat bertindak sebagai honest broker, bukan memihak,” ujarnya.






