Menkeu Purbaya Bantah Rupiah Hancur Akibat Perang: Depresiasi Hanya 0,3 Persen, Investor Asing Masuk

3 menit membaca
Nandang Permana
Nasional, News - 16 Mar 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami kehancuran akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026), ia memaparkan data historis yang menunjukkan daya tahan rupiah terhadap guncangan global masih cukup baik dengan rata-rata depresiasi hanya 0,3 persen setiap kali terjadi perang.

“Kalau kita lihat dinamika global memang gonjang-ganjing mengganggu semuanya. Ada yang bilang rupiah hancur. Tapi kalau kita lihat betul, itu setiap perang rupiah hanya terdepresi sebesar 0,3. Jadi sebetulnya bagus daya tahanan kita. Yang real, yang pemain yang punya duit betul, bilangnya seperti ini. Tapi yang yang nggak punya duit kali Pak yang jelek-jelekin,” kata Purbaya dikutip Senin (16/3/2026).

Purbaya menegaskan penilaian bahwa rupiah hancur tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di pasar keuangan. Menurutnya, pelaku pasar yang benar-benar menanamkan dana justru masih menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Ia mencontohkan indikator risiko negara seperti Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun yang masih relatif stabil. Data menunjukkan CDS Indonesia tenor 5 tahun per 22 Januari 2026 tercatat 73,28 basis poin, sementara pada 29 Januari 2026 naik ke 75,31 basis poin. Meskipun terjadi kenaikan, level tersebut masih tergolong terjaga secara historis.

Selain itu, spread Surat Berharga Negara (SBN) terhadap US Treasury juga hanya berubah sangat kecil. “Terus kalau kita lihat yang CDS, IDR 5 year, 5 tahun, masih relatif stabil . Gambar yang kanan atas Pak, itu adalah spread dari SBN terhadap treasury. Di Januari 25, 240 basis point. Sekarang 243 basis point. Naiknya hanya terbatas 0,3 basis point. Artinya asing masih percaya ke kita. Yang domestik aja nggak percaya Pak. Terus kalau kita lihat, ya bukan domestik aja. Pengamat domestik yang nggak percaya,” jelas Purbaya.

Spread yang stabil ini terjadi di tengah tekanan pada pasar obligasi global, di mana imbal hasil SBN tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak di kisaran 5,80–6,20 persen sepanjang 2026.

Menkeu menambahkan data arus modal yang masih menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik. Pada Maret misalnya, meski terjadi outflow SBN sekitar Rp0,7 triliun, terdapat inflow ke instrumen SRBI sekitar Rp2,2 triliun serta inflow di pasar saham sekitar Rp2,2 triliun.

Data tersebut sejalan dengan catatan BEI yang menunjukkan investor asing sempat membukukan beli bersih Rp905,27 miliar pada 12 Maret 2026, meskipun secara year-to-date masih mencatat net sell . Bahkan pada awal Maret, investor asing tercatat melakukan pembelian bersih saham Indonesia senilai Rp3,44 triliun meskipun IHSG melemah, didorong oleh reformasi pasar modal yang dilakukan pemerintah.

“Jadi setelah goncang-goncang-goncang, di bulan Maret sepertinya masih masuk ke sini Pak. Artinya mereka percaya betul bahwa fondasi kita bagus. Ini kalau investor-investor yang asli seperti ini Pak, karena mereka taruh uang,” pungkas Purbaya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!