Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini saat rapat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI di PT Japfa Comfeed Indonesia, Kabupaten Lampung, Lampung, Jumat (30/01/2026)/Foto: Humas DPRIndragamnewscom, LAMPUNG – Kondisi ekonomi global yang kian tak menentu sedang memberikan tekanan hebat bagi industri dalam negeri. Mulai dari merosotnya nilai tukar Rupiah hingga harga energi yang melambung tinggi, semuanya menjadi ancaman serius bagi produktivitas nasional.

Merespons tantangan ini, Komisi VII DPR RI bergerak cepat melakukan pengawasan terhadap transformasi Industri Hijau (Green Industry). Salah satu yang menjadi sorotan adalah langkah PT Japfa Comfeed Indonesia di Provinsi Lampung.
Darurat Krisis Energi dan Ekonomi
Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menegaskan bahwa efek domino dari tekanan ekonomi saat ini sudah sampai ke level rumah tangga dan industri besar. Tanpa adanya langkah konkret menuju keberlanjutan, industri nasional terancam stagnan.

“Tekanan ekonomi hari ini sangat dirasakan masyarakat dan industri. Kenaikan harga energi jelas mempengaruhi produktivitas dan dapat mengancam kemajuan industri nasional ke depan,” ungkap Novita Hardini usai Kunjungan Kerja Spesifik, Jumat (30/01/2026).
Japfa Jadi Pilot Project Industri Hijau?
Dalam kunjungannya, legislator dari Fraksi PDI-Perjuangan ini mengapresiasi langkah PT Japfa Comfeed yang mulai memanfaatkan energi surya sebagai sumber energi terbarukan. Namun, Novita memberikan catatan penting bahwa konsep “hijau” tidak boleh berhenti di urusan listrik saja.
Menurutnya, penerapan industri hijau yang ideal harus mencakup Transformasi Energi: Beralih ke sumber energi ramah lingkungan, Manajemen Limbah: Pengelolaan sisa produksi yang tidak merusak ekosistem, serta Dampak Lingkungan: Memastikan keberadaan pabrik memberikan dampak positif bagi alam sekitar.
“Saya berharap PT Japfa bisa menjadi contoh atau pilot project penerapan industri hijau di sektor pangan,” tegas politisi perempuan tersebut.
Buka Pintu untuk UMKM, Wujudkan Asta Cita
Tak hanya soal lingkungan, Novita juga menyoroti aspek keadilan ekonomi. Ia mengingatkan agar perusahaan besar tidak “bermain sendiri” dari hulu ke hilir. Sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden mengenai kemandirian dan kedaulatan pangan, ekosistem industri harus inklusif.
Novita menegaskan agar PT Japfa membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi para pelaku UMKM dan usaha mikro. Tujuannya jelas: agar kemajuan industri pangan bisa dirasakan hingga ke lapisan ekonomi terbawah, bukan hanya didominasi oleh pemain besar.






