Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad sebut pelemahan rupiah harus jadi momentum percepat substitusi impor dan dorong ekspor sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom, JAKARTA-Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat harus menjadi momentum memperkuat industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan produk impor.

Ia menyebut langkah itu penting untuk memperkokoh fondasi ekonomi nasional di tengah gejolak pasar global.
Salah satu penyebab rentannya rupiah, menurut Kamrussamad, adalah masih tingginya ketergantungan sektor industri terhadap bahan baku dan produk impor.
“Percepatan substitusi produk impor terhadap industri manufaktur kita. Dengan percepatan ini maka komponen impor akan mengalami penurunan,” ujarnya dikutip Sabtu (6/6/2026).

Ia menjelaskan, pengurangan ketergantungan impor berdampak pada penghematan devisa dan penguatan kapasitas produksi nasional. Semakin banyak kebutuhan industri dipenuhi dari dalam negeri, tekanan terhadap permintaan valuta asing dapat berkurang.
Kamrussamad juga mendorong peningkatan volume ekspor. Pelemahan rupiah justru dinilai dapat menjadi peluang bagi produk Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional.
“Karena biaya produksi kita dalam bentuk rupiah lebih rendah, peluang untuk masuk ke pasar global menjadi lebih besar. Ini harus dimanfaatkan terutama untuk sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan,” ujar legislator Fraksi Partai Gerindra itu.
Namun, ia menyoroti ekspor dari sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan justru mengalami penurunan pada awal tahun 2026. Padahal, sektor-sektor itu memiliki potensi besar sebagai sumber devisa sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Kamrussamad meminta pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap penguatan sektor produktif tersebut.
Ia juga mengajak masyarakat turut menjaga ketahanan ekonomi nasional melalui penggunaan produk dalam negeri. “Kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri terlebih dahulu, berwisata di dalam negeri, dan memperkuat ekosistem ekonomi lokal kita,” ujar politisi asal Dapil Jawa Barat III itu.
Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci menghadapi tekanan ekonomi global. “Kalau industri dalam negeri kuat, ekspor meningkat, dan masyarakat mendukung produk lokal, maka ekonomi kita akan lebih tahan terhadap gejolak eksternal, termasuk tekanan terhadap rupiah,” tutupnya.






