Rupiah menguat ke Rp16.879 per dolar AS meski dibayangi lonjakan harga minyak dunia akibat konflik AS-Iran yang mengancam defisit APBN 2026/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom, JAKARTA-Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan dengan apresiasi di tengah pelemahan indeks dolar AS, meski dibayangi risiko pembengkakan defisit anggaran akibat lonjakan harga minyak global.

Mata uang Garuda tercatat menguat 0,41 persen ke posisi Rp16.879 per dolar AS pada pembukaan pasar, Selasa (10/03/2026).
Kendati menunjukkan performa positif di lantai bursa, sentimen geopolitik di Timur Tengah yang menyulut harga minyak hingga menyentuh US$ 92 per barel menengarai adanya ancaman serius terhadap stabilitas fiskal nasional dalam jangka panjang.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi determinan utama yang memicu kekhawatiran pasar terhadap rantai pasok energi dunia.

Suksesi kepemimpinan di Iran yang tetap berada di bawah kendali kelompok garis keras diprediksi akan memperpanjang eskalasi ketegangan, sehingga harga minyak berpotensi melampaui level tertinggi sejak awal krisis Ukraina-Rusia.
“Perkembangan konflik ini bisa menyulut harga minyak ke level tertinggi sejak awal perang Rusia-Ukraina 2022,” ujar pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi.
Di sisi domestik, lonjakan harga komoditas energi tersebut menciptakan celah lebar antara realitas pasar dengan asumsi makro APBN 2026 yang dipatok pada level US$ 70 per barel.
Kondisi ini memaksa pemerintah untuk mewaspadai potensi pelebaran defisit anggaran yang diperkirakan bertambah sekitar Rp6,8 triliun akibat selisih harga tersebut.
Ibrahim memproyeksikan bahwa jika harga minyak terus merangkak naik hingga menembus angka psikologis US$ 100 per barel, defisit APBN terhadap PDB bisa mendekati angka 4 persen.
Sementara itu, sentimen dari kawasan regional turut mewarnai pergerakan rupiah melalui rilis data inflasi konsumen China yang tumbuh 1,3 persen pada Februari 2026.
Laju inflasi tercepat dalam tiga tahun terakhir di Negeri Tirai Bambu tersebut memberikan sinyal pemulihan permintaan, namun di sisi lain menambah kompleksitas arah kebijakan moneter global.
Dengan berbagai tekanan eksternal tersebut, rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dan berisiko ditutup pada kisaran Rp16.950 hingga Rp17.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.






