Umbi Misterius Papua yang Jadi Incaran Peneliti Kanker

2 menit membaca
Padilah Rahayu
Ragam - 15 Apr 2026

Indoragamnewscom-Di batang pohon besar di pedalaman Papua, menempel umbi kecokelatan dengan rongga seperti sarang semut. Jangan salah sangka, bukan sarang serangga, melainkan Myrmecodia pendans, tanaman yang oleh masyarakat setempat diyakini mampu menekan sel kanker dan menstabilkan gula darah.

Tanaman epifit ini tumbuh menempel pada pohon inang di hutan Papua, dari pinggir pantai hingga pegunungan setinggi 2.500 meter di atas permukaan laut. Namanya berasal dari bahasa Yunani myrmekodes—”mirip semut” atau “dikerumuni semut”.

Jika dibelah, batangnya yang menggelembung memperlihatkan lorong-lorong rumit yang memang dihuni koloni semut.

Di balik bentuknya yang aneh, para peneliti menemukan kandungan kimia yang tak biasa. Sarang semut kaya akan flavonoid, tanin, tokoferol, polifenol, serta mineral seperti kalsium, kalium, seng, dan magnesium.

Flavonoid dalam tanaman ini diketahui bersifat anti-karsinogenik: mampu menghambat siklus sel kanker dan memicu apoptosis alias kematian sel kanker.

Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Lampung menyebutkan bahwa flavonoid dari sarang semut dapat menghambat aktivasi metabolisme karsinogen, menghambat angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru pada tumor), serta bertindak sebagai antiproliferasi. Uji laboratorium juga menunjukkan ekstrak etanol sarang semut memiliki efek sitotoksik terhadap sel HeLa, sel yang berasal dari kanker serviks.

Untuk diabetes, studi yang dimuat dalam Jurnal Majority (2016) mengungkap mekanisme yang lebih spesifik. Flavonoid dalam sarang semut bekerja dengan menghambat fosfodiesterase, yang pada akhirnya merangsang sekresi insulin melalui jalur kalsium. Tanaman ini juga mengandung polifenol yang berperan menurunkan kadar gula darah sekaligus bersifat antimikroba.

Selain kanker dan diabetes, masyarakat Papua secara turun-temurun menggunakan rebusan sarang semut untuk mengatasi rematik, penyakit jantung, ambeien, hingga melancarkan haid. Kandungan tanin yang tinggi juga membuatnya efektif sebagai antibakteri alami, terutama untuk menghentikan diare.

Bahkan penelitian tahun 2019 menemukan bahwa ekstrak sarang semut dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Vibrio parahaemolyticus pada ikan, sehingga berpotensi sebagai pengawet alami.

Sayangnya, meski khasiatnya telah dibuktikan secara empiris dan ilmiah, budidaya sarang semut masih terkendala. Biji tanaman ini hanya berkecambah dalam kondisi segar, sementara buah dan biji yang jatuh kerap dimakan semut jenis Iridomyrmex cordatus atau burung Dicaeum cruentatum. Perbanyakan alternatif secara in vitro masih terus dikembangkan.

Cara konsumsinya cukup sederhana: umbi dikeringkan, direbus dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas, lalu diminum rutin . Rebusan ini diklaim tidak memiliki efek toksik pada sel tubuh. “Sarang semut adalah tanaman yang diketahui memiliki kandungan yang dapat menjadi anti kanker,” tulis para peneliti dalam Jurnal Medula (2017).

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!