Blood Moon Warnai Langit Indonesia saat Berbuka Puasa 3 Maret 2026

2 menit membaca
Nandang Permana
Nasional, News - 02 Mar 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Masyarakat Indonesia akan disuguhkan fenomena astronomi langka berupa Gerhana Bulan Total atau yang dikenal sebagai Blood Moon pada Selasa, 3 Maret 2026, di bulan suci Ramadan, dengan puncak fenomena bertepatan waktu berbuka puasa di wilayah Indonesia bagian barat.

Plt. Direktur Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, A. Fachri Radjab, menjelaskan bahwa Gerhana Bulan Total terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus sehingga cahaya matahari terhalang bumi, namun bulan tidak sepenuhnya gelap melainkan tampak merah pekat akibat fenomena hamburan Rayleigh.

“Fenomena dengan periode yang persis sama seperti ini baru akan terulang kembali dalam 18 tahun ke depan,” jelasnya dikutip Senin (2/3/2026).

Seluruh wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke dapat menyaksikan fenomena ini dengan rincian fase dalam Waktu Indonesia Barat: awal fase penumbra mulai pukul 15.00 WIB, gerhana sebagian mulai pukul 16.40 WIB, puncak Gerhana Bulan Total terjadi pukul 18.03 WIB, dan akhir fenomena sekitar pukul 21.00 WIB.

Wilayah Indonesia bagian timur mendapatkan keuntungan lebih karena bulan sudah terbit saat seluruh fase gerhana dimulai, sehingga masyarakat di sana dapat menyaksikan seluruh rangkaian proses dari awal hingga akhir dengan lebih jelas.

Berbeda dengan gerhana matahari, Gerhana Bulan Total sangat aman diamati dengan mata telanjang tanpa memerlukan alat bantu atau kacamata khusus.

BMKG sendiri akan melakukan pengamatan di 36 lokasi di seluruh Indonesia menggunakan teropong canggih, sementara masyarakat yang tidak bisa keluar rumah tetap dapat menyaksikan fenomena ini melalui siaran langsung di kanal resmi Info BMKG.

Fachri menegaskan bahwa Gerhana Bulan Total adalah fenomena alamiah murni yang secara ilmiah dampak nyatanya hanya terjadi pada kondisi pasang surut air laut, di mana permukaan air laut akan menjadi lebih tinggi karena gaya gravitasi bulan.

Masyarakat diharapkan tidak mempercayai mitos-mitos tidak berdasar seperti bulan dimakan raksasa, larangan bagi ibu hamil keluar rumah, atau mandi saat gerhana untuk menambah aura kecantikan.

“Mengingat fenomena ini terjadi di bulan Ramadan dan merupakan tanda kebesaran Sang Pencipta, umat Islam disunnahkan untuk melaksanakan Salat Gerhana setelah melihat fenomena tersebut,” ungkap Fachri.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!