Candi dan makam tokoh penyebar agama Islam yang bersebelahan menunjukkan toleransi beragama masyarakat sekitar/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Di tengah hamparan danau kecil yang dikelilingi empat gunung besar, berdiri Candi Cangkuang, satu-satunya candi Hindu yang masih utuh di wilayah Jawa Barat.

Keunikannya tidak hanya pada arsitektur sederhana tanpa relief, tetapi juga pada lokasinya yang hanya berjarak tiga meter dari makam Embah Dalem Arief Muhammad, tokoh penyebar Islam abad ke-17, menjadikan kompleks ini sebagai simbol harmoni antarumat beragama yang telah terjalin selama berabad-abad.
Candi yang terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut ini pertama kali ditemukan pada 9 Desember 1966 oleh Tim Sejarah Leles yang dipimpin Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita.
Penemuan ini berawal dari catatan Vorderman dalam buku “Notulen Bataviaasch Genotschap” terbitan tahun 1893 yang menyebutkan adanya makam kuno dan sebuah arca di wilayah Desa Cangkuang. Arca yang dimaksud adalah arca Dewa Syiwa yang kini tersimpan di dalam bilik candi.

Penelitian dan penggalian dilakukan sejak 1967 hingga 1968, dilanjutkan dengan pemugaran pada 1974-1976. Dalam proses rekonstruksi, tim hanya menemukan sekitar 40 persen batu asli candi, sehingga sisanya dibuat dari adukan semen, batu koral, pasir, dan besi yang dicetak menyerupai batu asli. Candi ini diresmikan pada tahun 1976 oleh Menteri Pendidikan saat itu, Prof. Dr. Syarif Thayeb.
Kompleks Candi Cangkuang berdiri di atas lahan seluas 16,5 hektar berupa pulau kecil di tengah Situ Cangkuang. Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menaiki rakit bambu selama sekitar 10 menit menyeberangi danau sambil menikmati pemandangan Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur yang memutari kawasan candi.
Candi Cangkuang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 4,5 x 4,5 meter dan tinggi mencapai 8,5 meter. Nama “Cangkuang” diambil dari tanaman sejenis pandan (Pandanus furcatus) yang banyak tumbuh di daerah ini dan biasa dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar, atau pembungkus gula aren.
Di dalam bilik candi terdapat arca Dewa Syiwa setinggi 62 cm dalam posisi bersila di atas padmasana ganda. Pada bagian depan kaki kiri arca terdapat kepala sapi (nandi) yang menjadi ciri khas perwujudan Dewa Syiwa. Kondisi arca ini sudah rusak dengan bagian tangan hingga pergelangan hilang dan wajah yang datar.
Kampung Adat Pulo dengan Enam Rumah Abadi
Setelah menyeberangi danau, pengunjung akan melewati kompleks pemukiman adat Kampung Pulo. Kampung ini hanya terdiri dari enam bangunan rumah yang dihuni enam kepala keluarga, jumlah yang tidak pernah berubah dari masa ke masa.
Enam rumah tersebut berjajar tiga di sisi kiri dan tiga di sisi kanan yang saling berhadapan, ditambah satu musala sebagai tempat ibadah .
Tradisi adat menetapkan bahwa jumlah rumah dan kepala keluarga tidak boleh ditambah atau dikurangi. Jika seorang anak menikah, paling lambat dua minggu setelah pernikahan harus meninggalkan rumah adat dan membangun keluarga di luar kampung.
Ia baru dapat kembali jika salah satu keluarga inti meninggal dunia, dengan syarat harus berjenis kelamin perempuan dan melalui musyawarah keluarga.
Makam Arief Muhammad dan Museum Naskah Kuno
Di sebelah selatan candi, hanya berjarak sekitar tiga meter, terdapat makam Embah Dalem Arief Muhammad, tokoh penyebar Islam di wilayah Cangkuang.
Konon, Arief Muhammad adalah panglima perang Kerajaan Mataram yang diutus Sultan Agung untuk menyerang tentara VOC di Batavia pada abad XVII. Setelah serangan gagal, ia memilih mengasingkan diri ke Cangkuang dan menyebarkan agama Islam di tengah masyarakat yang saat itu mayoritas beragama Hindu.
Metode dakwah Arief Muhammad disebut mirip dengan pola dakwah Wali Songo, mengajarkan Islam tanpa kekerasan dan paksaan. Secara perlahan, masyarakat sekitar mulai menganut Islam, meskipun beberapa kepercayaan lama masih dilaksanakan. Misalnya, hari Rabu menjadi hari besar bagi mereka, bukan hari Jumat.
Kompleks Candi Cangkuang juga dilengkapi museum yang menyimpan berbagai naskah kuno peninggalan Arief Muhammad. Koleksi berharga museum ini antara lain Al-Qur’an terjemahan berbahasa Jawa yang ditulis pada abad ke-17 menggunakan kertas kulit kayu saeh (daluang) dengan ukuran 33 x 24 cm, naskah khotbah Idulfitri sepanjang 167 cm yang berisi keutamaan puasa dan zakat fitrah, serta kitab ilmu fikih dan tauhid.
Menurut penelitian Kementerian Agama, manuskrip Al-Qur’an Candi Cangkuang ini merupakan mushaf Al-Qur’an dengan terjemahan interlinear menggunakan bahasa Jawa dialek Muria.
Teks Al-Qur’an ditulis dengan khat naskh, sementara terjemahannya menggunakan khat riq’ah. Naskah ini diduga dibawa Arief Muhammad dari daerah asalnya di pesisir utara Jawa Tengah.
Para ahli menduga Candi Cangkuang didirikan pada abad ke-8 berdasarkan tingkat kelapukan batuan dan kesederhanaan bentuknya yang tidak memiliki relief, mirip dengan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng. Hingga kini, tidak diketahui secara pasti kerajaan apa yang membangun candi ini.






