Tradisi Nganteuran masyarakat Sunda yang dilakukan menjelang Lebaran/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Di tengah hiruk-pikuk persiapan menyambut Hari Raya Idulfitri, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyempatkan diri menjalankan tradisi turun-temurun masyarakat Sunda: Nganteuran.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Dedi tampak bersama Nyi Hiang menyiapkan puluhan rantang berisi makanan khas Sunda yang akan dibagikan kepada tetangga sekitar.
Sejumlah rantang berjejer rapi, masing-masing terisi ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang, hingga beragam kue kering. Perlengkapan sederhana itu menjadi simbol kebersamaan yang telah mengakar kuat di Bumi Pasundan.
Nganteuran, yang berasal dari kata dasar “anteur” dalam Bahasa Sunda berarti mengantarkan, adalah tradisi mengirim makanan khas Lebaran kepada keluarga, kerabat, dan tetangga sehari sebelum Idulfitri.

Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun di berbagai wilayah Jawa Barat bagian selatan seperti Bandung, Pangandaran, Tasikmalaya, hingga Garut.
Bagi warga Sunda, kegiatan berbagi makanan ini menjadi momen yang dinanti di penghujung Ramadan. Warga biasanya berlalu-lalang mengunjungi rumah-rumah terdekat dari pintu ke pintu, membawa rantang berisi hidangan Lebaran sambil berbagi sapa dan senyuman.
Suasana keakraban tercipta ketika makanan khas seperti ketupat disantap bersama keluarga dan tetangga di hari yang fitri.
Lebih dari sekadar berbagi makanan, Nganteuran mengandung makna mendalam tentang saling melengkapi kekurangan antar sesama Muslim, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Tradisi ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi dan berbagi rezeki, mengingatkan bahwa kebahagiaan Lebaran akan terasa sempurna ketika dirasakan bersama.
Selain Nganteuran, masyarakat Sunda memiliki beragam tradisi lain yang turut mewarnai perayaan Lebaran. Salah satunya adalah Ngadulag, tradisi memukul bedug yang dilakukan pada malam takbiran.
Aktivitas ini biasanya mengiringi takbiran di masjid atau keliling kampung, menciptakan suasana meriah menyambdatangnya hari kemenangan. Setelah shalat Id, tradisi sungkeman dilaksanakan sebagai wujud hormat kepada orang tua dan kerabat.
Tradisi lainnya adalah Nyekar, yang berasal dari kata “sekar” berarti bunga. Kegiatan menabur bunga saat berziarah ke makam keluarga atau sanak saudara ini diyakini muncul akibat akulturasi budaya Islam, Jawa, dan Hindu.
Bagi masyarakat Sunda, Nyekar menjadi sarana mengenang dan mendoakan leluhur, biasanya dilakukan sebelum atau setelah hari raya.
Budayawan Sunda, Aceng Kurnia, menegaskan bahwa tradisi-tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bagian dari identitas budaya yang harus dijaga. “Nganteuran misalnya, mengajarkan kita tentang keikhlasan berbagi tanpa pamrih. Ini nilai luhur yang harus terus ditanamkan kepada generasi muda,” ujarnya.
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, upaya melestarikan tradisi seperti yang dilakukan Dedi Mulyadi menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan leluhur.
Sebab di balik setiap rantang makanan dan taburan bunga di pusara, tersimpan filosofi kehidupan yang memperkuat ikatan sosial dan spiritual masyarakat Sunda.






