Ketua Komisi IX DPR Felly Runtuwene dorong vaksinasi campak berbasis cuaca dan prediksi wabah. Sebut strategi selama ini masih reaktif/Foto: Humas DPR RIIndoragamnewscom, JAKARTA-Ketua Komisi IX DPR Felly Estelita Runtuwene meminta pemerintah mengubah strategi vaksinasi campak dari yang selama ini cenderung reaktif menjadi berbasis prediksi.

Menurutnya, sebagai negara tropis, Indonesia seharusnya memiliki rumusan yang mampu memperkirakan kapan dan di mana wabah akan meledak dengan mempertimbangkan faktor cuaca serta karakteristik wilayah.
Dalam rapat kerja di Kompleks Parlemen Senayan, Felly menekankan pentingnya pendekatan yang lebih terukur.
“Kita harus menghitung, ada rumus yang mungkin bisa dipakai untuk masyarakat Indonesia. Ini daerah tropis. Jadi kira-kira kalau wabah ini masuk atau meledak karena dipengaruhi cuaca, di mana itu harus bisa dipetakan,” ujar legislator NasDem itu dikutip Selasa (21/4/2026).

Data menunjukkan ancaman campak masih nyata. Kementerian Kesehatan mencatat puluhan ribu kasus suspek dengan ratusan kasus terkonfirmasi serta Kejadian Luar Biasa (KLB) di sejumlah provinsi sepanjang 2025 hingga awal 2026. Secara global, Indonesia menempati posisi tinggi dalam jumlah kasus campak.
Salah satu penyebab utamanya adalah turunnya cakupan imunisasi pasca pandemi, yang masih berada di bawah target nasional untuk mencapai kekebalan kelompok. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengungkapkan bahwa upaya vaksinasi juga terhambat kelompok antivaksin dan isu halal haram yang masih berkembang di masyarakat.
Felly mengingatkan agar fokus penanganan penyakit tidak hanya tertuju pada satu isu tertentu—seperti tuberkulosis yang saat ini menjadi perhatian nasional. Ia menilai keseimbangan program imunisasi sangat penting untuk menjaga ketahanan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
“Tapi bukan berarti mengabaikan juga yang lain-lain, seperti vaksin campak dan mungkin polio dan lain sebagainya. Jadi ini juga jangan diabaikan, tetap kita harus menghitung,” tegasnya.
Pemerintah sendiri telah meluncurkan Strategi Imunisasi Nasional 2025-2029 yang disusun bersama WHO, UNICEF, dan mitra lainnya. Dokumen ini merumuskan tujuan untuk mewujudkan cakupan berkeadilan, memperkuat tata kelola, serta membangun permintaan dan kepercayaan masyarakat terhadap vaksinasi.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), diperlukan kejar imunisasi bagi anak usia 9 bulan hingga 15 tahun dengan jadwal vaksin MR di usia 9 bulan, MR/MMR di usia 15-18 bulan, dan MR/MMR di usia 5 tahun.
“Kita harus menghitung prioritas, termasuk memetakan wilayah rawan, waktu penyebaran penyakit, hingga kesiapan distribusi vaksin,” pungkas Felly.







Tidak ada komentar