Hutan mati menjadi bagian yang dapat disaksikan saat berkunjung ke Kawah Papandayan/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Hamparan bunga edelweis menyambut di Tegal Alun. Di tempat lain, barisan pohon kering berdiri di atas tanah vulkanik putih, sunyi, misterius. Sementara fajar mulai merembes dari balik bukit, perlahan mengganti gelap menjadi keemasan.

Itu bukan cuplikan film fantasi. Itu rutinitas setiap pendaki yang menjejakkan kaki di Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat.
Wisatawan tidak harus merogoh kocek dalam-dalam untuk menikmatinya. Paket tur sunrise dari berbagai penyedia wisata dibanderol mulai Rp333.340 per orang. Untuk pendakian dua hari satu malam, harga berkisar Rp550.000 hingga Rp750.000 per peserta tergantung jumlah rombongan.
Perjalanan dimulai dini hari. Peserta berkumpul di Gerbang Tiket Taman Wisata Alam Gunung Papandayan, Jalan Kawah Papandayan, Desa Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan. Pukul 02.00 dini hari, mereka sudah bersiap. Registrasi, pemanasan, lalu mulai merambat di jalur berbatu setengah jam kemudian.

Medan awal langsung menyuguhkan pemandangan dramatis: kepulan asap belerang dari kawah aktif. Bau menyengat itu tak terelakkan. Pemandu wisata setempat menyarankan penggunaan masker sejak dari pos ini.
Setelah melewati kawasan kawah, perjalanan berlanjut ke Pos Ghober Hoet. Dari titik ini, pendaki masih harus berjalan 45 hingga 60 menit melintasi tanah merah yang belum tersentuh banyak orang. Fasilitas di Pos Ghober Hoet terbilang lengkap untuk ukuran pos pendakian: air bersih, toilet, warung makan.
Puncak dari perjalanan ini bukan sekadar melihat mentari terbit. Sekitar pukul 05.50, gradasi warna emas mulai menyelimuti hamparan awan dan kawah Ghober Hoet. Saat itulah para pendaki biasanya terdiam, melepas lelah, sekadar menatap.
“Berada di ketinggian saat fajar memberikan perspektif baru tentang betapa luasnya hamparan alam Parahyangan,” demikian deskripsi salah satu penyedia tur mengiklankan pengalaman ini.
Setelah matahari terbit, perjalanan berlanjut ke beberapa destinasi ikonik. Tegal Alun menyuguhkan padang edelweis yang membentang luas. Tidak jauh dari sana, Hutan Mati menghadirkan kontras suasana: batang-batang pohon hitam kering, sisa erupsi masa lalu, berdiri di atas tanah putih.
Bagi yang tidak ingin repot mengatur transportasi dan perlengkapan sendiri, tersedia paket tur dengan pemandu lokal. Beberapa penyedia bahkan menawarkan layanan porter dengan tarif Rp250.000 per hari. Fasilitas tambahan seperti trekking pole dan perlengkapan tenda juga bisa disewa.
Sebaliknya, jika lebih suka petualangan mandiri, lokasi ini berada 30 kilometer dari pusat Kota Garut, tepatnya di Desa Sirna Jaya dan Desa Keramat Wangi, Kecamatan Cisurupan. Kendaraan pribadi bisa diparkir di area yang tersedia, dengan kapasitas hingga 100 bus dan 200 mobil.
“Siapkan jas hujan,” kata seorang pemandu lokal yang enggan disebutkan namanya. Cuaca di ketinggian memang kerap berubah, bahkan saat musim kemarau sekalipun.







Tidak ada komentar