Gubernur Jabar Dedi Mulyadi/Foto:Humas Pemprov JabarIndoragamnewscom, BANDUNG-Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi justru berterima kasih kepada warga yang marah atas penertiban pedagang kaki lima di trotoar Bandung. Menurutnya, menjadi pemimpin berarti tak pernah bisa disukai semua pihak.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kemarahannya. Kalau jadi pemimpin itu memang tidak pernah berada dalam posisi yang disukai semua,” ujarnya dalam perjalanan menuju Kota Bekasi dikutip Kamis (21/5/2026).
Penertiban di kawasan Cicadas, Jalan Ahmad Yani, telah berlangsung sejak Senin pekan ini. Sedikitnya 20 kios semi-permanen dibongkar menggunakan alat berat. Kawasan ini akan menjadi lintasan utama proyek Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.
Dedi menegaskan, langkah itu bukan untuk mempersulit pedagang, melainkan mengembalikan fungsi trotoar sebagai ruang pejalan kaki. Selain itu, lapak-lapak di trotoar selama ini menutupi toko-toko resmi di kawasan tersebut.

“Pedagang kaki lima memang mencari nafkah untuk keluarga, tetapi trotoar bukan untuk pedagang kaki lima. Hak pejalan kaki harus diberikan, hak yang punya toko juga harus terlihat dari depan,” katanya.
Penertiban ini memicu protes karena pedagang mengaku tak mendapat pemberitahuan resmi sebelumnya. Seorang ibu-ibu berteriak mengadang petugas, “Sehari dua hari, ini kan harus diberesin dulu. Ini pemberitahuan tidak ada!”.
Dedi mengakui tidak ada aturan yang mewajibkan pemerintah memberi ganti rugi bagi bangunan atau aktivitas usaha di fasilitas umum. Namun ia tetap mempertimbangkan sisi kemanusiaan dan kondisi ekonomi pedagang.
“Kalau saya harus memberi miliaran rupiah tentu tidak mungkin juga, karena kemampuan keuangan kita terbatas,” ujarnya.
Sebagai gantinya, ia menawarkan pekerjaan. Kepada Hartoyo, pedagang kopi dan rokok yang telah 23 tahun berjualan di Cicadas, Dedi menawari menjadi penyapu jalan dengan gaji Rp130 ribu per hari. Hartoyo menerima.
“Siklus ekonominya harus tetap berjalan sebelum mereka mendapat pekerjaan atau usaha lain yang tidak mengganggu fasilitas umum,” kata Dedi.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan penataan akan terus berjalan dengan pendekatan persuasif. Ia menyebut Kota Bandung sangat tergantung pada kunjungan wisatawan, sehingga ketertiban kawasan publik menjadi kunci.
Dedi memastikan pemerintah daerah akan konsisten menjalankan penataan. “Saya akan terus menjaga pemerintah untuk konsisten menjalankan amanahnya sebagai pemimpin daerah, menjaga ketertiban, kebersihan, dan keindahan lingkungan,” pungkasnya.







Tidak ada komentar