Tradisi ngiling bumbu di Rumah Tuo Jambi, simbol gotong royong dan harmoni alam, terancam penambangan ilegal. Belut makin sulit, sawah mengering/Foto: Indonesia KayaIndoragamnewscom-Di sudut Desa Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Jambi, berdiri Rumah Tuo—rumah adat berusia 700 tahun yang menjadi pusat tradisi ngiling bumbu.

Tradisi menggiling rempah ini bukan sekadar aktivitas memasak, melainkan simbol kebersamaan, gotong royong, dan harmoni dengan alam.
Namun, penambangan emas ilegal mengancam kelestariannya: Sungai Tabir menyempit, sawah mengering, dan belut—bahan utama gulai khas—semakin sulit ditemukan.
Ngiling bumbu digelar dalam momen penting seperti turun ke ladang, panen raya, kenduri pernikahan, dan pembangunan rumah baru. Prosesi ini menciptakan suasana penuh canda tawa, mempererat ikatan masyarakat, sekaligus menjaga nilai-nilai warisan leluhur.

Para gadis menumbuk kunyit, jahe, lengkuas, dan serai, sementara yang lain memarut kelapa menjadi santan. Bahan-bahan ini berasal dari ladang subur di sepanjang Sungai Lamuih, yang airnya mengalir ke Sungai Tabir dan bermuara ke Batanghari.
Pada masa lalu, ngiling bumbu juga menjadi ajang pertemuan jodoh. Pemuda dan pemudi berbalas pantun di sela-sela gotong royong. Sebuah pantun berbunyi:
“Batang salih di tepi rimbo, rebah sebatang ke dalam payo, kalun bulih abong betanyo, kak baju abang siapo namo?”
Para gadis menjawab dengan pantun khas mereka, baru kemudian belut hasil tangkapan para pemuda diserahkan untuk dimasak.
Setelah bumbu selesai digiling, tradisi berlanjut dengan ngukuih—memasak gulai belut campur daun pakis. Hidangan ini dimasak perlahan di atas tungku kayu selama sekitar satu setengah jam, menghasilkan cita rasa kaya dari rempah, cabai, dan santan. Nasi dari padi ladang baru dipanen menjadi pendamping.
Belut dalam tradisi ini bukan sekadar bahan makanan, tetapi simbol kekuatan dan kegigihan. Memancing belut menjadi perlombaan yang menguji kemahiran dan mempererat ikatan sosial. Kegiatan ini mengajarkan kerja sama, keterampilan, dan ketahanan pangan bagi generasi muda.
Namun, modernisasi mengubah ritual itu. Kini ngiling bumbu lebih banyak dilakukan oleh para ibu, sementara muda-mudi mengenal satu sama lain lewat ponsel. “Sekarang, ngiling bumbu hanya jadi bagian dari beselang untuk memasak, dan itu dilakukan induk-induk. Kalau muda-mudi, perkenalan sekarang di HP bae,” kata Ramuini (19), pelajar SMAN 2 Merangin.
Ancaman lebih besar datang dari penambangan emas ilegal yang menyempitkan Sungai Tabir dan merusak sawah. Aliran sungai yang semakin sempit menyebabkan kegagalan panen berulang. Sawah yang dulunya subur kini kosong, dan belut semakin sulit ditemukan.
“Kalau sawah dak dikerjakan lagi, tradisi mancing belut pun hilang. Makanan khas kami juga bisa lenyap,” keluh Sholihin, pemuda setempat.
Ahmad Mahendra, Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek, menekankan pentingnya pelestarian. “Ngiling bumbu adalah cerminan kearifan lokal yang menghubungkan kita dengan masa lalu dan harus terus dijaga di masa depan,” ujarnya.




