Bawang Putih Impor Rp13 Ribu Per Kilo, DPR Bongkar Alasan Swasembada Kita Jalan di Tempat

2 menit membaca
Ninding Yulius Permana
News, Politik - 26 Jan 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Mimpi Indonesia untuk mandiri secara pangan, khususnya swasembada bawang putih, rupanya masih terganjal oleh godaan “cuan” impor yang menggiurkan.

Hal ini diungkapkan secara gamblang oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, saat melakukan kunjungan kerja di Kebun Benih Hortikultura Tawangmangu, Jawa Tengah, Kamis (22/1/2026).

Riyono membeberkan fakta pahit di balik dominasi bawang putih asing di pasar domestik. Menurutnya, selisih harga yang sangat lebar antara harga beli impor dan harga jual di pasar lokal menjadi magnet kuat yang sulit ditolak oleh para pelaku usaha.

“Saya bertemu dengan teman-teman asosiasi pedagang pasar seluruh Indonesia, mereka menyampaikan harga bawang putih dari Cina itu seharga Rp17.000-Rp20.000 perkilogram, tapi begitu masuk ke Indonesia, di pasar harganya bisa Rp30.000,” ungkap Riyono.

Angka tersebut menunjukkan adanya margin keuntungan hingga Rp13.000 per kilogram. Kondisi inilah yang membuat minat pedagang dan importir tetap tinggi, meskipun taruhannya adalah keberlangsungan produksi lokal.

“Siapa yang tidak tergiur dengan cuan yang begitu besar, para importir nanti pasti akan ramai,” tambahnya.

Melihat fenomena ini, Komisi IV DPR RI tidak tinggal diam. Riyono menegaskan bahwa masalah bawang putih bukan sekadar soal teknis menanam di sawah, melainkan keruwetan dari hulu hingga ke hilir yang harus segera dibenahi.

Sebagai solusi konkret, DPR saat ini tengah memberikan perhatian khusus melalui pembahasan perubahan Undang-Undang Pangan. Regulasi ini diharapkan menjadi senjata utama untuk menata ulang tata niaga bawang putih yang selama ini timpang.

“Semuanya bukan perkara hanya menanam, tetapi ini memang hulu-hilirnya harus kita atasi bersama. Dan saya yakin nanti Undang-Undang Pangan akan dibahas oleh Komisi IV dan mudah-mudahan di Agustus bisa kita sahkan,” tegasnya optimis.

Meski mengakui bahwa menghentikan arus impor bukan perkara mudah, aspirasi yang diserap dari Kebun Benih Tawangmangu memberikan harapan baru. Riyono yakin, dengan sinkronisasi antara pemerintah, DPR, dan pemangku kepentingan, peluang swasembada dalam beberapa tahun ke depan tetap terbuka lebar.

“Dengan begitu (pengesahan UU) perlahan-lahan kita bisa menata berkaitan dengan masalah bawang putih,” pungkasnya.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!