Transisi LPG ke CNG, Pemerintah Jamin Kompor Tetap Sama

3 menit membaca
Nandang Permana
Nasional, News - 07 Mei 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Api kompor justru lebih biru dan lebih panas. Penggantian tabung tidak memerlukan modifikasi kompor. Itulah klaim Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait program substitusi LPG 3 kg dengan Compressed Natural Gas (CNG) yang ditargetkan mulai tahun ini.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa teknologi tabung CNG terbaru telah dirancang agar kompatibel dengan perangkat memasak yang sudah dimiliki masyarakat.

“Kompor tidak perlu diganti, tinggal plug, sudah mengalir. Tadinya pakai LPG, sekarang pakai CNG,” ujar Laode dalam acara “CNG & LNG untuk Rakyat” di Jakarta dikutip Kamis (7/5/2026).

Bahkan, berdasarkan pengamatannya, kualitas pembakaran CNG disebut lebih baik. “Langsung plug and play, nyala kompor itu dengan CNG. Dan apinya lebih biru malah kalau saya perhatikan,” kata Laode.

Tantangan teknis utama terletak pada perbedaan tekanan. CNG memiliki tekanan sekitar 250 bar, jauh lebih tinggi dibandingkan LPG yang hanya 5–10 bar. Pemerintah saat ini tengah memfokuskan pengembangan tabung berkapasitas 3 kg (tipe 4) yang sudah termasuk valve pengaman untuk mengatur aliran gas.

Pemerintah menyatakan program ini tidak hanya memudahkan masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional. Pasalnya, seluruh bahan baku CNG tersedia di dalam negeri, berbeda dengan LPG yang masih tergantung pada impor.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengumumkan penemuan cadangan gas raksasa di Blok Geliga, Kalimantan Timur. Cadangan gas sebesar 5 triliun kaki kubik (Tcf) dan 300 juta barel kondensat itu akan mulai berproduksi pada 2028 .
“Ini adalah strategi bagaimana gas kita tidak kita lakukan impor dari negara manapun. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tegas Bahlil.

Pelaku Usaha: Siap Tapi Minta Konsistensi

Dunia usaha menyambut langkah ini sebagai terobosan yang menarik untuk mengurangi ketergantungan impor LPG. Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Anggawira menyatakan ekosistem bisnis CNG sebenarnya sudah ada sejak lebih dari 15 tahun lalu, melayani sektor industri, transportasi, hingga komersial.

Namun, Anggawira menegaskan bahwa pelaku usaha membutuhkan kepastian regulasi dan peta jalan jangka panjang. “Dunia usaha pada prinsipnya siap berpartisipasi, sepanjang ada konsistensi kebijakan dan kepastian roadmap jangka panjang dari pemerintah. Ini penting agar investasi infrastruktur yang sifatnya capital intensive bisa memiliki kepastian demand dan keekonomian,” ujarnya.

Dari sisi keekonomian, secara teoritis CNG bisa lebih kompetitif daripada LPG karena bahan bakunya berasal dari gas domestik. Namun pengembangan CNG masih terkendala kesenjangan infrastruktur pipa gas, jumlah mother station, serta skema subsidi yang perlu dijaga.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Liquid & Compressed Natural Gas Indonesia (APLCNGI) Dian Kuncoro menambahkan bahwa saat ini penggunaan CNG masih terpusat di Pulau Jawa dan sebagian kecil Sumatra. “Penyebaran penggunaan CNG sangat bergantung pada keberadaan pipa gas utama sebagai sumber mother station dan konsentrasi kawasan industri,” katanya.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

8 hours ago
5 days ago
1 month ago
1 month ago
1 month ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!