Bupati Temanggung Agus Setyawan saat panen raya edamame di lahan pertanian Desa Nguwet, Kecamatan Kranggan, Senin (27/4/2026)Indoragamnewscom, TEMANGGUNG–Bupati Agus Setyawan melihat celah. Permintaan ekspor edamame dan buncis beku masih tinggi. Kondisi geografis Temanggung yang dikelilingi tiga gunung dinilai cocok untuk kedua komoditas itu.

Ia mendorong para petani mulai melakukan diversifikasi pertanian. Tidak hanya padi atau palawija biasa, tetapi edamame dan buncis yang punya nilai ekonomi relatif tinggi.
“Setelah melihat dari lahan pertanian sampai proses produksinya, saya rasa ini adalah prospek yang bagus,” ujar Agus usai panen raya edamame di Desa Nguwet, Kecamatan Kranggan, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, petani Temanggung sejatinya sudah tak asing dengan edamame dan buncis. Namun, pola dan sistem pemasaran masih belum dipahami banyak orang. Keberadaan PT Kelola Agro Makmur (KAM) dinilai strategis untuk menjembatani celah itu.

Perusahaan yang berdiri di Temanggung sejak 2019 itu menerapkan mekanisme kemitraan yang jelas. Petani mendapat kepastian harga dan pembelian, bahkan sebelum proses tanam dimulai.
Selain itu, mereka sudah mengetahui lebih awal klasifikasi harga panen berdasarkan proses sortasi dari pihak perusahaan. “Kami akan berusaha menghubungkan kepentingan petani sebagai penyedia bahan baku dengan PT KAM,” kata Agus.
PT KAM, yang merupakan anak perusahaan Kelola Group, khusus bergerak di bidang industri sayuran beku . Produk utamanya adalah edamame beku, disamping buncis, okra, dan mukimame.
Direktur Utama PT KAM, Gema Ramadan, menyebut pangsa pasar produk mereka sudah menembus Jepang, Amerika Serikat, hingga India. Permintaan ekspor terus meningkat. Negara-negara lain juga menunjukkan ketertarikan.
Daya simpan produk hingga dua tahun dengan harga kompetitif menjadi daya tarik tersendiri. Namun ada satu kendala utama yang membatasi ekspansi: keterbatasan bahan baku.
Saat ini kapasitas produksi pabrik mencapai 50 ton, tetapi realisasi produksi baru sekitar 25 ton per hari. “Ke depan mungkin kami bisa memproduksi hingga 100 ton per hari, dengan catatan infrastruktur dan ketersediaan bahan baku terpenuhi,” ujar Gema.
Ia berharap kerja sama dengan petani dapat meningkatkan kuantitas bahan baku, sehingga dampak positifnya makin besar, termasuk penyerapan tenaga kerja.
Salah satu petani mitra, Ahmad Sudadi, merasakan langsung manfaat kemitraan itu. Ia memiliki lahan tadah hujan seluas 0,5 hektare di Temanggung. Dibanding menanam padi, edamame lebih menguntungkan.
“Dibandingkan dengan tanaman padi, masih mending edamame,” katanya.
Dari lahan 0,5 hektare, ia mampu memanen hingga 4 ton edamame. Dengan harga Rp7.500 per kilogram, hasil panennya mencapai Rp30 juta sekali panen. Dalam setahun, lahan tadah hujan maksimal dapat dipanen dua kali.
Potensi ini yang ingin diperbesar Bupati Agus. Dengan dukungan kemitraan dan kepastian pasar, ia optimistis edamame dan buncis bisa menjadi komoditas unggulan baru Temanggung.
“Semoga nantinya dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat, khususnya kalangan petani,” pungkasnya.




Tidak ada komentar