Cahaya Obor dan Lampion di Singkawang

2 menit membaca
Nandang Permana
Daerah, News - 17 Feb 2026

Indoragamnewscom, SINGKAWANG-Kota Singkawang bersolek dengan perpaduan cahaya yang unik saat ribuan warga menggelar Pawai Obor Ramadan pada Senin, 16 Februari 2026.

Tradisi menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah ini terasa berbeda karena pelaksanaannya bertepatan dengan momentum perayaan malam Tahun Baru Imlek. Fenomena langka ini menciptakan pemandangan kontras namun harmonis di mana nyala api obor bersanding dengan pendar lampion di sepanjang jalan protokol.
Bagi masyarakat setempat, peristiwa ini bukan sekadar arak-arakan massa, melainkan manifestasi nyata dari ketahanan toleransi di kota yang kerap dijuluki sebagai pusat multikulturalisme di Kalimantan Barat.

Wakil Wali Kota Singkawang, Muhammadin, menegaskan bahwa esensi dari kegiatan ini melampaui seremoni membawa api di malam hari. Ia memandang obor sebagai representasi kesiapan batin umat Islam dalam memasuki bulan puasa yang penuh ampunan.

“Malam ini bukan malam biasa. Ini adalah malam cahaya obor, simbol semangat, simbol iman, dan simbol kebersamaan kita menyambut bulan suci Ramadan,” ujar Muhammadin kepada wartawan di Singkawang, Senin (16/2/2026).

Ia menekankan bahwa kegembiraan menyambut Ramadan tahun ini mendapatkan dimensi sosial yang lebih dalam berkat irisan waktu dengan agenda besar masyarakat Tionghoa.

Situasi di lapangan menunjukkan semangat integrasi sosial yang kuat saat barisan pembawa obor melintas di bawah hiasan lampion merah. Muhammadin secara khusus mengajak warga untuk merawat momentum ini dengan saling menghormati, baik bagi mereka yang bersiap menjalankan ibadah puasa maupun yang sedang merayakan pergantian tahun dalam kalender lunar.

“Mari kita buktikan Singkawang bukan hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi sebagai kota yang kuat karena toleransi, kota yang maju, dan kota yang selalu bersatu,” tegasnya di tengah kerumunan massa yang antusias.

Pemerintah Kota Singkawang juga memberikan apresiasi kepada jajaran TNI, Polri, serta organisasi masyarakat seperti Bala Komando yang memastikan transisi dua perayaan besar ini berjalan kondusif.
Koordinasi lintas sektoral dianggap krusial mengingat beban pengamanan meningkat saat massa pawai bertemu dengan keramaian atraksi barongsai dan pesta kembang api.

Keamanan yang terjaga menjadi parameter penting dalam membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi jalannya agenda publik yang melibatkan ribuan orang secara bersamaan.

Kemeriahan ditutup dengan pembukaan resmi Pawai Obor yang diikuti dengan letusan kembang api sebagai tanda dimulainya perayaan Imlek. Muhammadin berharap sinkronisasi cahaya obor dan lampion ini menjadi pengingat bagi warga akan pentingnya menjaga kerukunan dalam mengejar kemajuan daerah.

Sinergi antara nilai religius dan tradisi lokal ini diharapkan mampu memperkuat identitas Singkawang sebagai kota yang harmonis dan sejahtera di masa depan.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!