Ghibah, Dosa Lisan yang Disamakan dengan Memakan Daging Saudara

3 menit membaca
Fitri Sri
Khazanah - 14 Apr 2026

Indoragamnewscom-Allah SWT menggambarkannya dengan gambaran yang membuat bulu kuduk merinding: “Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati?”

Itulah ghibah, menggunjing keburukan orang lain di belakangnya. Dosa yang kerap dianggap sepele, padahal dalam timbangan akhirat bobotnya luar biasa.

Secara bahasa, ghibah berarti membicarakan seseorang. Secara syariat, para ulama mendefinisikannya sebagai menyebut-nyebut saudara sesama Muslim tentang hal yang tidak disukainya, baik menyangkut fisik, keturunan, akhlak, perbuatan, agama, maupun harta dan itu semua benar adanya.

Rasulullah SAW bersabda: “Ghibah adalah engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Lalu seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika yang aku sebutkan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Jika benar adanya, berarti engkau telah melakukan ghibah. Jika tidak benar, berarti engkau telah melakukan buhtan (fitnah).” (HR. Muslim).

Bahaya ghibah tidak main-main. Pelakunya diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Dampaknya pun merusak sendi-sendi kehidupan. Hubungan sosial runtuh karena kepercayaan hilang, permusuhan merajalela, dan rasa hormat luntur. Pelaku ghibah juga kerap kehilangan ketenangan jiwa, dibayangi rasa bersalah yang mengganggu kualitas hidupnya.

Menghindari ghibah butuh latihan sadar setiap hari. Langkah pertama: menyadari betapa serius konsekuensinya. Kedua, ketika obrolan mulai mengarah pada ghibah, ubah topik ke hal yang lebih positif dan konstruktif.

Ketiga, fokus pada kebaikan orang lain. Alih-alih mencari-cari aib, biasakan diri berbicara tentang kelebihan dan prestasi sesama . Keempat, tahan diri dengan bertanya sebelum berbicara: “Apakah ini perlu? Apakah ini akan merugikan orang lain?” Jika jawabannya negatif, lebih baik diam.

Kelima, berdoa untuk kebaikan orang lain. Mendoakan kebaikan untuk sesama tidak hanya mencegah ghibah, tapi juga menciptakan suasana hati yang positif.

Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam sabda lain: “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.” (HR. Muslim).

Prinsip akhlak dalam berbicara juga menuntun agar setiap Muslim berkata baik atau diam . Jika ada kritik yang perlu disampaikan, lakukan dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang, bukan dengan menggunjing.

Setiap individu berhak atas privasi dan kehormatannya. Masalah pribadi yang tidak pantas diungkap ke publik sebaiknya disimpan rapat-rapat.

Sebagai penutup, mari kita renungkan firman Allah dalam QS Al-Hujurat ayat 12: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

2 weeks ago
2 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!