Ketua Pelaksana Lomba Marching In Harmoni Championship XIX 2026, Dewi Farida (merah) saat memimpin Teknikal Meeting di Ruang Media, Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu (26/4/2026)/Foto: Nandang Permana/IndoragamnewscomIndoragamnewscom, BOGOR-Gelaran Marching In Harmoni Championship XIX 2026 tingkat TK akan berlangsung di GOR Satria, Cibinong, Kabupaten Bogor pada 24 Mei 2026 mendatang.

Lomba yang memasuki edisi ke-19 ini digelar bekerja sama dengan Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI) Kabupaten Bogor, KONI, dan Dispora.
Ketua Pelaksana Lomba, Dewi Farida, mengungkapkan bahwa antusiasme peserta terhadap kompetisi ini sangat luar biasa. Hingga saat ini, sekitar 21 unit dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Depok, dan Tangerang telah mendaftar.
“Antusiasnya luar biasa, ada sekitar 21 unit yang ikut lomba dari beberapa daerah. Tidak menutup kemungkinan akan terus bertambah pesertanya,” ujar Dewi dalam wawancara dengan Indoragamnewscom, usai Teknikal Meeting di Ruang Media, Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu sore (26/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa peserta yang mendaftar di akhir biasanya datang setelah merasa benar-benar siap. Namun, panitia memiliki ketentuan khusus di mana peserta yang terakhir mendaftar akan tampil lebih dulu.
Dua Kategori untuk Menjaga Keadilan
Lomba ini terbagi menjadi dua kategori. Pertama, Rising Star, yaitu kategori untuk unit yang belum pernah ikut lomba atau belum pernah meraih juara.
Kedua, Star, kategori khusus untuk unit yang sudah berpengalaman dalam mengikuti lomba dan sering menjadi juara.
“Kalau kita lombakan hanya satu kategori, kasihan kepada unit yang baru berkembang atau baru ikut lomba. Kasihan kan mereka harus melawan unit yang sudah jago-jago,” jelas Dewi.
Penilaian lomba mencakup dua aspek: display dan konser. Display menilai kemampuan unit dalam membentuk formasi, sementara konser lebih fokus pada penampilan musik.
Lomba sebagai Media Eksplorasi, Bukan Tekanan
Sebagai ajang yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak TK, Dewi menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin lomba ini menimbulkan tekanan bagi peserta. Lomba diharapkan menjadi media bagi anak-anak untuk bereksplorasi dan bergembira.
“Kami tidak ingin ada tekanan. Lomba ini dijadikan media untuk anak-anak eksplorasi. Anak harus mengeluarkan ekspresinya, jangan menuntut gerakan yang rapi atau juara,” tegasnya.
Dewi juga menyoroti bahwa tidak sedikit pelatih atau orang tua yang kerap menuntut anak-anak untuk tampil sempurna. Padahal, tujuan utama lomba adalah membuat anak-anak gembira agar ke depannya mereka berkembang dengan baik dan berkarakter.
“Biarkan mereka bergembira mengikuti perlombaan. Tujuannya adalah membuat anak-anak gembira, agar kedepannya mereka berkembang dengan baik dan berkarakter,” pungkasnya.







Tidak ada komentar