Seorang ayah sedang menggendong dan membelai seorang anak kecil dengan penuh kasih sayang. Menunjukkan kelembutan kepada anak-anak/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Menjadi orang tua di era modern bukanlah perkara mudah. Kelelahan fisik dan tekanan mental sering kali membuat sumbu kesabaran memendek; tidak jarang teguran keras atau bahkan cubitan mendarat pada anak.

Namun, jika merujuk pada teladan Nabi Muhammad SAW, Islam yang merupakan risalah kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin) justru memancarkan kelembutan di dalam rumah, khususnya kepada anak-anak.
Salah satu testimoni paling indah tentang cara Nabi mendidik anak datang dari Anas bin Malik RA. Anas diserahkan ibunya untuk melayani Rasulullah SAW sejak usia sekitar 10 tahun. Dalam riwayat sahih, Anas menceritakan:
“Aku menjadi pelayan Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Demi Allah, selama itu beliau tidak pernah berkata ‘uf’ (kasar) kepadaku dan tidak pernah berkata, ‘Mengapa engkau berbuat begini? Mengapa engkau tidak berbuat begitu?’” (HR Bukhari no. 6038 dan Muslim no. 2309).

Bayangkan, seorang anak pra-remaja tentu tidak luput dari kesalahan. Namun Rasulullah SAW memilih pendekatan evaluasi penuh kelembutan, bukan dengan amarah atau interogasi yang menyudutkan.
Nabi juga sangat memahami psikologi anak. Suatu ketika, saat memimpin salat berjamaah, sujud beliau memakan waktu sangat lama. Para sahabat sempat khawatir.
Selesai salat, Nabi menjelaskan bahwa cucunya, Hasan dan Husain, memanjat punggung beliau saat sujud. Beliau bersabda, “Cucuku sedang menunggangiku, dan aku tidak ingin terburu-buru menurunkannya sampai ia puas” (HR An-Nasa’i).
Di saat banyak orang tua memarahi anak karena ribut di masjid, Nabi justru menunjukkan toleransi luar biasa. Beliau mengajarkan bahwa menanamkan kecintaan anak pada tempat ibadah harus dimulai dengan memori menyenangkan, bukan trauma karena bentakan.
Aisyah RA juga menegaskan: “Rasulullah SAW tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, tidak pada perempuan (istri), tidak juga pada pembantu, kecuali dalam perang di jalan Allah. Nabi SAW juga ketika diperlakukan buruk oleh sahabatnya tidak pernah membalas, kecuali ada pelanggaran atas kehormatan Allah” (HR Muslim no. 6195).
Mendidik tanpa kekerasan fisik dan verbal bukan berarti membiarkan anak berbuat sesukanya. Kedisiplinan tetap ditegakkan melalui keteladanan, dialog, dan kejelasan aturan, bukan dengan ancaman.
Anak yang dididik dengan bentakan mungkin patuh karena takut, tetapi anak yang dididik dengan kasih sayang akan patuh karena rasa hormat dan cinta.
Mari jadikan rumah sebagai ruang paling aman dan ramah bagi anak-anak. Jika masih sering kelepasan meninggikan suara, belum ada kata terlambat untuk meminta maaf dan bertekad meniru kelembutan Sang Nabi.
Sebab, dari rahim keluarga penuh cinta dan jauh dari kekerasanlah akan lahir generasi muslim yang kuat, santun, dan menyejukkan.
Wallahu a’lam bish-shawab.







Tidak ada komentar