Nabi Yusuf memaafkan saudara-saudaranya tanpa cercaan, meski pernah dizalimi dan dimasukkan ke sumur/Ilustrasi: Indoragamnewscom
Indoragamnewscom-Nabi Yusuf adalah korban kezaliman saudara-saudara kandungnya sendiri yang memasukkannya ke dalam sumur karena rasa cemburu. Mereka menyiksa dan mengabaikan permintaan tolongnya.

Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika saudara-saudaranya datang meminta bantuan di masa kelaparan, Yusuf tidak membalas dendam.
Ia justru memaafkan mereka dengan ketulusan yang tercatat dalam QS. Yusuf: 92.
Kisah Nabi Yusuf menjadi salah satu teladan terbesar tentang pengampunan dalam Islam. Kezaliman yang ia alami datang dari orang-orang terdekat: saudara-saudara kandungnya sendiri.

Mereka merasa tidak diperlakukan sama baiknya oleh orang tua, lalu merancang untuk menyingkirkan Yusuf dengan memasukkannya ke dalam sumur. Bahkan sebelum itu, mereka menyiksa dan tak menghiraukan permintaan tolongnya.
Setelah bertahun-tahun berpisah, takdir mempertemukan Yusuf dengan saudara-saudaranya dalam kondisi yang sangat berbeda. Mereka datang ke Mesir dalam keadaan kelaparan dan membutuhkan bantuan.
Pada saat itu, Yusuf telah menjadi penguasa yang berkuasa penuh. Ia bisa dengan mudah membalas dendam atas semua penderitaan yang pernah ia alami.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Dalam QS. Yusuf ayat 92, Yusuf berkata:
“Lā tathrība ‘alaikumul-yauma yaghfirullāhu lakum.”
“Hari ini tiada lagi cercaan bagi kamu. Allah akan mengampuni kamu, dan Dia adalah Maha Penyayang.”
Melalui kalimat itu, Yusuf menegaskan bahwa ia telah menghapus semua kesalahan dari ingatan dan hatinya.
Ia tak ingin mencela, mencemooh, atau mengecam orang-orang yang pernah menyengsarakannya, bahkan yang hampir menghilangkan nyawanya.
Yusuf tidak membalas keburukan dengan keburukan. Ia justru mengubah situasi yang penuh luka menjadi kesempatan untuk berbuat baik. Bukan hanya kata-kata maaf, ia juga memberikan bantuan pangan kepada saudara-saudaranya di tengah krisis kelaparan.
Sikap ini mencerminkan keikhlasan dan ketulusan hati yang luar biasa. Tidak ada rasa dendam, tidak ada kepahitan, yang tersisa hanyalah pengampunan dan kasih sayang.




