Pemerintah Siapkan Singkong dan Rumput Laut Gantikan Plastik Impor

3 menit membaca
Ninding Yulius Permana
Nasional - 11 Apr 2026

Indoragamnewscom, JAKARTA-Harga plastik melonjak 40 hingga 60 persen dalam sepekan terakhir. Pelaku UMKM sektor makanan dan minuman paling terdampak. Banyak dari mereka memilih menahan harga jual meski keuntungan menipis.

“UMKM berusaha menjaga harga barang di mata masyarakat dan pembeli. Mereka tidak menaikkan harga jual, tetapi konsekuensinya keuntungan menjadi menipis karena biaya produksi naik,” ujar Menteri UMKM Maman Abdurrahman dikutip Sabtu (11/4/2026).

Penyebab utamanya adalah gangguan distribusi nafta—turunan minyak bumi yang menjadi bahan baku utama plastik—akibat konflik geopolitik di Timur Tengah . Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk bahan baku ini.

Data Kementerian UMKM menunjukkan 55 persen bahan baku plastik berasal dari impor, dan 70 persen distribusinya melewati jalur Selat Hormuz yang saat ini tidak stabil.

Data Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia 2026 menunjukkan kelangkaan nafta telah menurunkan kapasitas produksi plastik. Bahkan sejumlah lini produksi terpaksa berhenti beroperasi.

Industri kemasan plastik dalam negeri memang mendominasi pasar hingga 67,61 persen pada 2025, dengan sektor makanan sebagai kontributor terbesar.

Akibatnya, omzet UMKM dilaporkan turun rata-rata hingga 50 persen. Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Henry Chevalier menilai kenaikan biaya bahan baku plastik berpotensi mendorong inflasi lebih luas di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

“Kantong-kantong kresek saja yang tadinya harga berapa, sekarang sudah naik hampir 50 persen harganya,” ujarnya.

Menghadapi situasi ini, pemerintah menyiapkan strategi jangka pendek dan panjang. Untuk jangka pendek, Indonesia telah mengamankan pasokan nafta alternatif dari kawasan yang relatif stabil seperti Afrika, India, dan Amerika. Proses administrasi tengah dipercepat agar distribusi dapat segera berjalan.

Untuk jangka panjang, pemerintah mendorong transformasi menuju bahan baku alternatif yang ramah lingkungan dan berbasis sumber daya domestik.

“Ini bukan hanya solusi atas krisis pasokan, tetapi juga peluang untuk membangun industri hijau berbasis potensi lokal,” kata Maman.

Sejumlah bahan dinilai memiliki potensi besar diolah menjadi bioplastik: bambu, rumput laut, dan singkong. Secara teknis, singkong mengandung pati berupa amilosa dan amilopektin yang dapat diolah menjadi thermoplastic starch (TPS), bahan dasar bioplastik yang mudah terurai.

Sementara rumput laut menghasilkan ekstrak seperti karaginan dan alginat yang mampu membentuk lapisan plastik ramah lingkungan.

Maman mengakui plastik berbasis rumput laut selama ini masih dianggap terlalu mahal karena skala produksinya kecil. Namun, beberapa UMKM telah memulai produksi dan bahkan menembus pasar ekspor.

“Nanti kita akan coba lakukan, kita akan panggil beberapa usaha kecil menengahnya, dan kita akan dorong dalam skala yang lebih besar lagi, supaya cost produksi plastiknya dari bahan baku rumput laut bisa ditekan,” ujarnya.

Pemerintah berkomitmen memperkuat dukungan terhadap inisiatif tersebut agar skala produksi meningkat. “Jika kebijakan diarahkan untuk memperkuat substitusi bahan baku dari nafta ke rumput laut, maka permintaan akan tumbuh dan biaya produksi dapat ditekan,” beber Maman.

Selain itu, Kementerian UMKM tengah mengkaji sejumlah kebijakan pendukung: subsidi penggunaan bioplastik, penguatan rumah kemasan bersama, penerapan prinsip pengurangan plastik, serta pelatihan dan pendampingan gaya hidup ramah lingkungan.

Masyarakat juga diimbau berperan aktif mengurangi penggunaan plastik dan meningkatkan praktik daur ulang. Pemerintah memperkirakan harga plastik berpotensi kembali stabil seiring pulihnya rantai pasok melalui pasar alternatif.

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

1 week ago
3 weeks ago
4 weeks ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!