Peringati Harjalu ke-770, Pemkab Lumajang Gelar Kirab Budaya, Tari Kolosal Hingga Gerebeg Gunungan

2 menit membaca
Nita Susilawati
News, Wisata - 16 Des 2025

Indoragamnewscom, LUMAJANG-Prosesi peringatan Hari Jadi Lumajang (Harjalu) ke-770 Tahun 2025 tidak hanya ditampilkan sebagai perayaan budaya, tetapi dimaknai sebagai instrumen edukasi publik yang menghidupkan kembali sejarah dan nilai-nilai lokal melalui bahasa budaya.

Kirab, tari kolosal, hingga grebeg gunungan diposisikan sebagai media pembelajaran yang dekat dengan masyarakat dan mudah dipahami lintas generasi.

Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menegaskan bahwa budaya memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap jati diri daerah.

“Budaya bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan. Melalui kirab, tarian, dan simbol-simbol budaya, sejarah dan nilai Lumajang disampaikan dengan cara yang dapat dirasakan serta dipahami oleh masyarakat,” ujar Indah dalam prosesi yang digelar di Pendopo Arya Wiraraja, Kabupaten Lumajang, pada Senin (15/12/2025).

Kirab Barisan Kerajaan dan Nararya Kirana dimaknai sebagai pengingat visual atas perjalanan panjang Lumajang sejak masa kerajaan hingga masa kini. Setiap elemen dalam prosesi tersebut dirancang untuk membawa pesan historis tentang kepemimpinan, kebersamaan, dan keberlanjutan nilai.

Penyampaian sejarah melalui pendekatan budaya dinilai mampu membuat pesan lebih hidup dan membekas, khususnya bagi generasi muda. Tari kolosal yang ditampilkan menjadi medium narasi sejarah yang komunikatif, memadukan gerak, irama, dan visual untuk menggambarkan perjalanan Nararya Kirana sebagai simbol kepemimpinan dan kebijaksanaan.

Menurut Bupati Lumajang, pendekatan budaya seperti ini penting agar pelestarian sejarah tidak berhenti pada arsip atau monumen, tetapi benar-benar hadir di ruang publik dan kehidupan masyarakat.

“Nilai sejarah tidak hanya disimpan, tetapi perlu diwariskan. Budaya menjadi sarana yang paling efektif untuk mentransfer nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya,” tegasnya.

Grebeg gunungan hasil bumi turut dimaknai sebagai simbol edukasi tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kerja keras masyarakat. Gunungan tidak hanya melambangkan rasa syukur, tetapi juga mengajarkan nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghargaan terhadap sumber daya lokal.

Melalui pendekatan tersebut, pelestarian budaya ditempatkan sebagai proses berkelanjutan, bukan sekadar seremoni tahunan. Budaya berfungsi sebagai bahasa publik yang mendidik, menyatukan, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah.

Peringatan Harjalu ke-770 menegaskan bahwa pembangunan Lumajang tidak hanya bertumpu pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga pada penguatan identitas kultural sebagai fondasi karakter masyarakat. Budaya menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan Lumajang yang tumbuh semakin tangguh.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!