Rampag Parebut Seeng: Ketika Silat dan Tari Berebut Tungku Nasi di Sindang Barang

2 menit membaca
Evan Permana
News, Wisata - 07 Mei 2026

Indoragamnewscom-Alun-alun Kampung Budaya Sindang Barang berubah menjadi arena gelanggang. Puluhan pasang mata tertuju pada satu titik: para lelaki berpakaian serba hitam yang bergerak dalam lingkaran. Mereka menari, tetapi juga bertarung. Mereka bertarung, tetapi tidak menyakiti.

Itulah Rampag Parebut Seeng.

Sebuah tungku nasi tradisional, yang disebut seeng, menjadi pusat perhatian. Satu orang membawanya. Yang lain berusaha menyentuhnya dengan gerakan silat. Siapa pun berhasil menyentuh, ia berhak membawa pulang tungku itu. Namun jika si perebut terjatuh, ia gugur. Diganti yang lain. Begitu seterusnya hingga tersisa satu orang.

Tapi jangan salah sangka. Pemenang di sini bukanlah orang yang terakhir berdiri. Melainkan orang yang berhasil menaklukkan nafsunya sendiri.

Lebih dari Sekadar Tontonan

Rampag Parebut Seeng bukan hiburan biasa. Pertunjukan yang menggabungkan seni tari dan seni bela diri ini sudah ada sejak zaman Kasepuhan Sunda. Ia selalu hadir dalam setiap acara penting masyarakat Sunda: pernikahan adat, khitanan, hingga puncak tradisi Seren Taun.

Di Kampung Budaya Sindang Barang, ritual puncak Seren Taun yang disebut Majiken Pare Ayah dan Pare Ambu baru saja usai. Masyarakat dihibur dengan kesenian Sunda lainnya. Tapi Rampag Parebut Seeng-lah yang paling dinanti.

Para peserta—laki-laki, dari anak-anak hingga dewasa—mengenakan pakaian serba hitam. Baju kampret, tutup kepala iket atau totopong, dan sarung menjadi seragam khas Sunda yang membedakan mereka dari penonton.

Silat Cimande di Atas Tanah

Abah Ukat, salah satu sesepuh atau kolot Kampung Budaya Sindang Barang, menjelaskan bahwa gerakan silat yang digunakan adalah Silat Cimande. Gerakannya berciri khas: pola kuda-kuda untuk menjaga jarak dengan lawan.

“Jaraknya selepas kaki,” kata Abah Ukat. Dari situ, barulah serangan balik dilancarkan.

Yang diajarkan Silat Cimande bukan sekadar teknik memukul atau menendang. Abah Ukat mengajarkan kesabaran. Juga keberanian untuk menjaga nafsu hewani yang bersemayam di dalam jiwa manusia.

Pijat Mantra untuk Cedera

Keunikan lain terjadi setelah pertunjukan usai. Seorang kokolot memijat peserta yang cedera. Caranya tidak biasa: air diusapkan ke bagian tubuh yang sakit, disertai mantra-mantra.

Secara medis, metode ini sulit diterima akal sehat. Tapi faktanya, para peserta mengaku lebih baik setelah dipijat ala Cimande.

Makna Filosofis di Balik Tungku

Seeng, tungku tradisional, bukanlah sekadar alat masak. Ia simbol kesejahteraan. Maka, memperebutkan seeng tidak berarti memperebutkan kesejahteraan itu sendiri.

Parebut Seeng, menurut para tetua, adalah bentuk pengendalian diri. Kemenangan sejati seorang manusia atas makhluk lain adalah kemampuannya mengendalikan hawa nafsu. Bukan sekadar jatuh bangun di arena, tetapi jatuh bangun dalam batinnya sendiri.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

6 hours ago
4 days ago
1 month ago
1 month ago
1 month ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!