Rezeki suami disebut tergantung istri, baik dari sisi sikap suami kepada istri maupun sebaliknya. Hadits dan ayat Quran menjelaskan korelasinya/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Beredar luas di tengah masyarakat sebuah ungkapan: rezeki suami tergantung pada istri. Dua makna terkandung di dalamnya.

Pertama, berkaitan dengan sikap suami kepada istri. Kedua, berkaitan dengan sikap istri kepada suami. Keduanya, menurut pemahaman ini, ikut menentukan lancar tidaknya rezeki yang diterima suami.
Dalam konstruksi rumah tangga Islam, suami dan istri dituntut bersinergi dalam kerangka ketakwaan kepada Allah. Bukan sekadar hubungan fungsional, melainkan kemitraan spiritual yang saling mengisi.
Memuliakan Istri Membuka Pintu Rezeki

Hadits riwayat At-Tirmidzi menyebutkan: “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR. At-Tirmidzi No. 3895, Ibnu Majah No. 1977). Syaikh Al-Albani dalam As-Sahihah No. 285 menyatakan hadits ini sahih.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Dua hadits ini menegaskan bahwa memuliakan istri bukan sekadar etika, melainkan bukti keimanan. Karenanya, pintu rezeki disebut akan terbuka bagi mereka yang bertakwa—dan ketakwaan salah satunya diwujudkan melalui perlakuan baik kepada istri.
Sebab Rezeki Suami Disebut Tergantung Istri
Beberapa alasan dikemukakan mengapa perlakuan suami terhadap istri berkorelasi dengan rezeki.
Pertama, istri adalah bidadari paling utama setelah ibu. Doa yang dipanjatkannya untuk suami—termasuk doa kelancaran rezeki—dinilai mustajab.
Kedua, istri yang bahagia menjadi kunci terwujudnya keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Suasana rumah yang harmonis membuat suami lebih positif dalam berusaha.
Ketiga, istri merupakan support system terbaik bagi suami. Di tengah lelahnya urusan di luar rumah, istri yang baik menjadi sandaran dan hiburan.
Keempat, istri yang bahagia cenderung mudah bersyukur atas rezeki apa pun yang didapatkan suami. Sikap syukur ini, sebagaimana firman Allah dalam QS Ibrahim: 7, akan mendatangkan tambahan nikmat.
Sikap Buruk Suami yang Disebut Memper sempit Rezeki
Sebaliknya, beberapa perilaku suami kepada istri dinilai dapat mempersempit pintu rezeki.
Tidak mengajarkan ilmu agama. Padahal QS At Tahrim ayat 6 memerintahkan suami menjaga keluarganya dari api neraka. Kewajiban ini mencakup pengajaran agama kepada istri.
Tidak sabar menghadapi istri. Sikap ini tidak hanya melukai perasaan, tapi juga memperkeruh suasana rumah. Dampak psikologisnya disebut ikut memengaruhi produktivitas suami dalam mencari nafkah.
Membiarkan istri menafkahi suami tanpa alasan syar’i. Jika tidak dalam kondisi darurat yang dibenarkan agama, suami yang melepas tanggung jawab nafkah kepada istri dinilai telah melakukan perbuatan tercela.
Membenci istri termasuk perbuatan keji di hadapan Allah. Demikian pula menyakiti hati dan fisik istri. QS Al Ahzaab ayat 58 dengan tegas menyebut perbuatan ini sebagai kebohongan dan dosa yang nyata.
Tidak ikut membantu pekerjaan rumah. Membiarkan istri bersusah payah sendirian mengurus anak dan membersihkan rumah disebut sebagai kelalaian yang berdampak pada rezeki.
Menyebarkan rahasia ranjang. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya” (HR. Abi Syaibah, Ahmad, dan Muslim).
Sikap Buruk Istri yang Menghambat Rezeki Suami
Dari sisi istri, beberapa perilaku juga disebut dapat mempersempit rezeki suami.
Mengabaikan kewajiban, terutama dalam beribadah. Pendekatan diri kepada Allah merupakan prasyarat datangnya rezeki.
Kurang bersyukur. QS Ibrahim ayat 7 menegaskan bahwa pengingkaran terhadap nikmat mendatangkan azab yang pedih.
Durhaka kepada suami (nusyuz). Perbuatan seperti tidak melayani suami dengan baik atau membicarakan keburukannya di belakang termasuk dalam kategori ini.
Enggan bersilaturahmi. Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang ingin rezekinya diperluas dan umurnya panjang, maka hendaknya ia bersilaturahmi” (HR. Bukhari).







Tidak ada komentar