Allah SWT telah menetapkan kadar rezeki setiap hamba sejak awal. Tapi itu bukan alasan untuk bermalas-malasan/Ilustrasi: IndoragamnewscomIndoragamnewscom-Ada yang selalu berkecukupan. Ada pula yang terus berjuang di garis kekurangan. Perbedaan itu kerap melahirkan pertanyaan, kenapa dia mudah mendapat limpahan harta, sementara saya tidak?

Dalam Islam, persoalan rezeki sudah diatur sejak awal. Allah SWT menetapkan kadar rezeki setiap hamba-Nya setelah ruh ditiupkan ke dalam jasad. Itu artinya, sejak manusia belum lahir ke dunia, porsi rezekinya sudah ditentukan.
Namun penetapan itu bukan untuk membuat seseorang berpangku tangan. Rezeki memang sudah dijamin, tapi cara menjemputnya tetap membutuhkan usaha.
Ayat ketiga Surah At-Talaq sering dirujuk untuk soal ini. Allah berfirman, artinya: “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Tawakal bukanlah pasrah tanpa gerak. Tawakal adalah berserah setelah usaha maksimal.
Lalu, apa sebenarnya rezeki itu? Banyak orang menyempitkan maknanya pada uang dan harta. Padahal, rezeki mencakup kesehatan, kebahagiaan, keluarga harmonis, teman setia, hingga anak yang saleh.
Seorang karyawan dengan gaji pas-pasan tetapi dikaruniai keluarga yang hangat dan tubuh yang bugar, sesungguhnya juga sedang menikmati rezeki. Sayangnya, bentuk rezeki non-materi ini kerap luput dari perhitungan.
Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah orang yang berada di bawahmu, jangan melihat orang yang di atasmu. Karena itu lebih pantas membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Bukhari-Muslim).
Prinsip ini menjadi penawar iri. Ketika seseorang melihat ke atas, ia akan merasa kekurangan. Sebaliknya, melihat ke bawah akan menyadarkannya betapa besar karunia yang telah diberikan.
Sementara itu, ada kabar gembira bagi mereka yang bersedekah. Harta yang dikeluarkan untuk orang lain tidak akan pernah berkurang. Justru Allah menjanjikan balasan berlipat ganda. Sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Keikhlasan dan konsistensi, sekecil apa pun, lebih utama.
Lantas, bagaimana dengan mereka yang bekerja keras tetapi hasilnya tidak kunjung membaik?
Perlu dipahami bahwa rezeki tidak hanya soal hasil instan. Ada proses, ada ujian, ada waktu yang harus dijalani. Tidak jarang, keterlambatan rezeki justru menjadi bentuk perlindungan Allah dari sesuatu yang lebih buruk.
Prinsip terakhir yang tak kalah penting: rezeki yang berkah jauh lebih berarti daripada rezeki yang banyak tetapi penuh masalah. Keberkahan membuat harta terasa cukup dan digunakan di jalan yang benar.
Maka, bekerja keras adalah kewajiban. Berdoa adalah senjata. Bersedekah adalah pengikat rezeki. Dan yang terpenting, yakini bahwa rezeki setiap orang tidak akan tertukar.







Tidak ada komentar