Jemaah haji Indonesia/Foto:KemenagIndoragamnewscom, JAKARTA-Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak memastikan persiapan penyelenggaraan Haji 2026 tetap berjalan lancar meskipun kawasan Timur Tengah tengah dilanda eskalasi konflik.

Dalam kunjungan kerja ke Arab Saudi, ia menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada kendala berarti, baik dari sisi Indonesia maupun otoritas Saudi. Keberangkatan perdana jemaah haji Indonesia dijadwalkan tetap pada 22 April 2026, sesuai dengan rencana awal yang telah ditetapkan.
Dahnil menyampaikan bahwa dirinya bersama jajaran Kementerian Haji dan Umrah telah melakukan pengecekan langsung terhadap kesiapan operasional haji serta koordinasi intensif dengan otoritas Arab Saudi.
“Alhamdulillah, sampai hari ini tidak ada kendala dalam persiapan, baik dari sisi Indonesia maupun pihak Arab Saudi. Insya Allah, keberangkatan pertama jemaah haji Indonesia akan dimulai pada 22 April 2026,” ujarnya dikutip Senin (30/3/2026).

Pemerintah terus berupaya memastikan seluruh tahapan penyelenggaraan haji berjalan optimal guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi jemaah. Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menegaskan bahwa pemberangkatan calon haji masih sesuai jadwal yang telah disusun sebelumnya.
“Terkait pemberangkatan jemaah calon haji sampai saat ini belum ada perubahan, masih tetap tanggal 21 April 2026 jemaah calon haji masuk asrama haji, kemudian pada 22 April berangkat,” katanya.
Jadwal resmi yang dikeluarkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mencatat bahwa jemaah haji akan mulai memasuki asrama haji pada 21 April 2026, dengan pemberangkatan gelombang pertama ke Madinah berlangsung 22 April hingga 6 Mei 2026. Puncak wukuf di Arafah dijadwalkan pada 26 Mei 2026.
Di tengah dinamika konflik global yang masih berlangsung, pemerintah telah menyiapkan skenario mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Berdasarkan rapat kerja Komisi VIII DPR dengan Kementerian Haji dan Umrah pada 11 Maret 2026, terdapat dua skenario utama: pertama, pemberangkatan tetap dilaksanakan dengan penyesuaian rute penerbangan melalui jalur selatan (kawasan Afrika Timur) yang berpotensi menambah waktu tempuh dan biaya, kedua, penundaan atau pembatalan keberangkatan jika situasi keamanan dinilai membahayakan jemaah.
Anggota Komisi VIII DPR Selly Andriany Gantina mengingatkan bahwa skenario mitigasi harus mencakup jemaah haji khusus, bukan hanya jemaah reguler. Ia juga menyoroti potensi perubahan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) akibat fluktuasi harga minyak dunia dan perubahan rute penerbangan.
Dalam kunjungannya ke Arab Saudi, Wamenhaj juga menekankan pentingnya ibadah haji sebagai simbol perdamaian dunia.
“Kita berharap eskalasi konflik di Timur Tengah dapat menurun, sehingga pelaksanaan haji bisa berlangsung dengan aman. Haji memiliki pesan kuat tentang perdamaian, kesetaraan umat manusia, serta perlindungan terhadap kelompok rentan seperti perempuan dan anak,” jelasnya .
Menurut Dahnil, nilai-nilai universal dalam ibadah haji diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi negara-negara yang tengah berkonflik untuk mengedepankan dialog dan perdamaian. Ia juga menyampaikan dukungannya terhadap upaya pemerintah Indonesia dalam mendorong perdamaian global yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto melalui dialog antarpemimpin dunia.
Pemerintah Arab Saudi hingga saat ini masih mempersiapkan diri menyambut kedatangan jemaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Otoritas setempat telah membuka pendaftaran haji bagi jemaah domestik sejak 24 Februari 2026 melalui platform Nusuk, dengan prioritas bagi calon jemaah yang belum pernah menunaikan ibadah haji.
Menutup pernyataannya, Wamenhaj mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terus mendoakan kelancaran penyelenggaraan Haji 2026. “Semoga Haji 2026 berjalan sukses, aman, dan memberikan kenyamanan bagi seluruh jemaah Indonesia maupun jemaah dari seluruh dunia,” tutupnya.







Tidak ada komentar