Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat memberikan keterangan pers terkait kesiapan pangan menghadapi El Nino 2026/Foto:Humas Kementan
Indoragamnewscom, JAKARTA-Pemerintah memperkuat stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk menghadapi potensi El Nino yang diprediksi terjadi mulai April 2026.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa penguatan cadangan pangan menjadi ujung tombak mitigasi menghadapi fenomena iklim ekstrem yang disebut “Godzilla El Nino” ini.
Hingga awal April 2026, stok beras nasional tercatat mencapai 4,4 juta ton dan ditargetkan meningkat menjadi 5 juta ton.
Ketut Astawa menjelaskan bahwa pemerintah berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian untuk menjaga produksi pangan dalam negeri, sementara Perum Bulog ditugaskan menyerap gabah untuk memperkuat cadangan beras pemerintah.

Berdasarkan data Bapanas per 2 April 2026, stok beras mencapai 4,4 juta ton, jagung pakan 168 ribu ton, minyak goreng 121 ribu kiloliter, gula pasir 49 ribu ton, daging sapi 8 ribu ton, dan daging kerbau 3 ribu ton.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman optimistis stok beras dapat mencapai 5 juta ton dalam waktu dekat. Dirut Perum Bulog, Agmad Rizal Ramdhani, memastikan stok cadangan beras yang mencapai 4.387.469 ton hingga 1 April 2026 telah tersimpan di gudang-gudang Bulog.
Ia memprediksi hingga akhir April 2026, total pengadaan beras dapat menembus angka 5 juta ton seiring berlanjutnya masa panen di berbagai daerah sentra produksi.
Program penyaluran cadangan pangan juga terus berjalan. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras telah tersalurkan 70 ribu ton hingga awal April 2026. Untuk bantuan pangan, beras yang disalurkan mencapai 21,3 juta kilogram, sementara minyak goreng tersalurkan 4,2 juta liter.
Pemerintah juga menyiapkan program SPHP jagung pakan dengan target penyaluran tahun ini mencapai 242 ribu ton.
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi El Nino mulai terjadi pada Mei 2026. Peneliti Klimatologi BRIN, Erma Yulihastin, mengatakan prediksi El Nino akan terus diperbarui setiap minggu dan meminta pemerintah segera melakukan langkah mitigasi.
Fenomena El Nino ini diperkirakan akan beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat mengakibatkan musim kemarau lebih panjang dan kering.
Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Lampung, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Namun, BRIN mengingatkan bahwa dampak El Nino tidak akan seragam di seluruh wilayah Indonesia.
Bagian selatan Indonesia berpotensi mengalami kekeringan, sementara wilayah timur laut seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru dapat menghadapi risiko banjir.
Pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi sejak awal, termasuk penguatan stok tidak hanya untuk beras tetapi juga jagung pakan, minyak goreng, gula, serta daging.
Menteri Pertanian juga mempercepat implementasi lima strategi utama mitigasi kekeringan, termasuk pemetaan wilayah rawan kekeringan, optimalisasi pengelolaan air, percepatan tanam di wilayah yang masih memiliki potensi air, optimalisasi lahan rawa dan cetak sawah, serta penguatan koordinasi lintas sektor.
Dengan persiapan yang dinilai jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pemerintah berharap penguatan cadangan pangan dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan serta mengantisipasi dampak El Nino terhadap produksi pangan nasional.






