Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bersama dengan Presiden Prabowo Subianto/Foto: Humas KementanIndoragamnewscom, JAKARTA-Bank Indonesia mencatat kinerja dunia usaha tetap terjaga pada triwulan I 2026 dengan Saldo Bersih Tertimbang sebesar 10,11 persen, didorong oleh sektor pertanian yang menjadi penyangga utama stabilitas ekonomi nasional.

Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menunjukkan aktivitas dunia usaha masih berada di zona positif, meski sedikit menurun dari triwulan sebelumnya yang mencapai 10,61 persen.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Anton Pitono, mengungkapkan bahwa sejumlah sektor tercatat tumbuh positif, di antaranya jasa keuangan, pertanian, kehutanan dan perikanan, industri pengolahan, serta perdagangan besar dan eceran.
Kinerja ini didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat selama periode hari besar keagamaan seperti Imlek, Nyepi, Ramadan, hingga Idulfitri, yang bertepatan dengan musim panen.

“Hasil SKDU mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan I 2026 tetap terjaga,” ujar Anton dalam keterangan tertulis dikutip Senin (20/4/2026).
Dari sisi operasional, tingkat kapasitas produksi terpakai mencapai 73,33 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 73,15 persen. Kondisi keuangan dunia usaha juga dinilai tetap stabil, baik dari sisi likuiditas maupun rentabilitas, serta didukung akses pembiayaan yang relatif lebih mudah.
Memasuki triwulan II 2026, Bank Indonesia memproyeksikan kinerja dunia usaha akan meningkat dengan SBT sebesar 14,80 persen. Peningkatan ini diperkirakan ditopang sektor pertanian seiring berlanjutnya musim panen.
Sebelumnya, Prompt Manufacturing Index (PMI) BI triwulan IV 2025 juga menunjukkan ekspansi di angka 51,86 persen, dengan proyeksi meningkat menjadi 53,17 persen pada triwulan I 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa sektor pertanian kini menjadi penggerak utama ekonomi nasional. “Pertanian bukan hanya penyangga, tetapi sudah menjadi motor penggerak ekonomi. Saat sektor lain mengalami tekanan, pertanian hadir sebagai solusi,” ungkap Amran.
Menurutnya, penguatan sektor pertanian merupakan hasil dari berbagai kebijakan strategis, seperti percepatan tanam, optimalisasi lahan, pompanisasi, hingga perbaikan sistem irigasi dan distribusi pupuk.
Kinerja sektor ini juga terlihat dari peningkatan ekspor pertanian (segar dan olahan) yang mencapai Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen, sementara impor menurun sebesar Rp41,68 triliun atau turun 9,66 persen.
Indikator kesejahteraan petani menunjukkan perbaikan signifikan. Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2026 mencapai 125,45, naik 1,50 persen dibanding Januari 2026. Capaian ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan resmi BPS di Indonesia.
Mentan Amran menekankan bahwa NTP Februari 2026 juga merupakan yang tertinggi selama lebih dari tiga dekade, mencerminkan rasio harga yang diterima petani meningkat lebih cepat dibandingkan biaya yang dibayar.
Dari seluruh subsektor, hortikultura mencatat kenaikan tertinggi, melonjak dari 119,62 pada Januari menjadi 139,57 pada Februari 2026.
Produksi komoditas utama seperti padi dan jagung mengalami peningkatan, sementara Cadangan Beras Pemerintah (CBP) diproyeksikan mencapai sekitar 5 juta ton—tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
“Cadangan kita tertinggi sepanjang sejarah. Ini memberi rasa aman bagi masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani,” jelasnya.
Guru Besar IPB, Prof. Ujang Sumarwan, menilai bahwa capaian ini merupakan hasil dari kebijakan yang berpihak kepada petani.
“Presiden tidak sekadar menerima laporan. Ia datang ke gudang Bulog untuk memastikan apakah yang disampaikan itu benar terjadi di lapangan. Stok beras kita memang dalam kondisi kuat dan terkendali,” ujarnya menanggapi inspeksi mendadak Presiden Prabowo Subianto ke Gudang Bulog Danurejo, Magelang, pada Sabtu (18/4/2026).
Dengan capaian tersebut, Kementerian Pertanian optimistis sektor pertanian akan terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional sekaligus menjaga ketahanan pangan. “Jika pertanian kuat, maka ekonomi nasional juga akan kuat,” tutup Amran.







Tidak ada komentar