Padang Cidaon, Savana 4 Hektar di Ujung Kulon yang Jadi Arena Berkumpul Satwa Liar

3 menit membaca
Evan Permana
News, Wisata - 21 Apr 2026

Indoragamnewscom-Di ujung barat Pulau Jawa, tersembunyi hamparan padang rumput seluas 4 hektar. Namanya Padang Penggembalaan Cidaon. Setiap pagi dan sore, banteng, rusa, kerbau liar, hingga burung merak keluar dari hutan untuk merumput di sini.

Tapi badak bercula satu—ikon Ujung Kulon yang populasinya hanya tersisa 50-60 ekor, kini hampir tak pernah lagi terlihat.

Padang Cidaon berada tepat di seberang Pulau Peucang, hanya sekitar 10 menit perjalanan dengan perahu kecil. Lokasi ini sengaja dibuat oleh pengelola Taman Nasional Ujung Kulon sebagai padang sabana buatan, tujuannya mengelompokkan fauna agar penyebaran satwa tidak terlalu merambah dan mengganggu kelangsungan hidup badak Jawa.

Berbeda dengan savana di Afrika yang luas membentang tanpa batas, Cidaon terasa lebih privat. Pengunjung harus melewati dermaga kayu yang papannya sudah mulai keropos, lalu trekking sejauh 250 meter menembus hutan bakau.
Sesampainya di padang rumput, suasana sunyi. Hanya ada suara gesekan rumput dan kicauan burung sesekali.

Waktu terbaik untuk datang adalah pagi antara pukul 06.00 hingga 10.00, atau sore pukul 15.00 hingga 17.00. Di jam-jam itu, banteng biasanya keluar dari hutan untuk makan. Setiap satu ekor banteng pejantan biasanya memimpin lima hingga sepuluh ekor betina.

Seekor burung merak kadang ikut menemani. Tapi mereka mudah ketakutan. Pendengaran merak sangat tajam, begitu mendengar langkah kaki manusia, mereka langsung lari masuk ke dalam hutan.

Pengunjung yang ingin melihat lebih jelas bisa memanjat menara pengintai yang disediakan. Dari atas, kawanan banteng terlihat seperti adegan dalam film Jurassic Park—padang rumput luas dengan binatang-binatang besar berjalan perlahan di kejauhan. Tapi hati-hati, kayu menara sudah tua dan licin.

Jangan coba-coba mendekati banteng terlalu dekat. Mereka bukan banteng jinak di film kartun. Jika merasa terusik, mereka akan lari dan masuk ke dalam hutan. Yang lebih parah, jika terdesak, mereka bisa berbalik menyerang.

Badak Jawa memang menjadi primadona Ujung Kulon. Tapi di Cidaon, kemunculannya sudah sangat langka. Menurut catatan IUCN Red List, populasi badak bercula satu di dunia hanya tersisa 50-60 ekor, semuanya berada di Taman Nasional Ujung Kulon. Hidup tersebar di area daratan seluas 78.619 hektare, peluang untuk menjumpainya sangat kecil.

Pada 2017 sempat terjadi kejadian langka. Seekor banteng ditemukan mati di kawasan Cidaon. Diduga banteng itu diterkam harimau jawa—spesies yang telah dinyatakan punah. Kejadian itu sempat menggegerkan kalangan internasional.

Untuk mencapai Cidaon, perjalanan dimulai dari Desa Taman Jaya atau Desa Sumur. Dari sana, naik perahu menuju Pulau Peucang, lalu lanjut dengan perahu kecil ke dermaga Cidaon. Total waktu tempuh sekitar 2-3 jam dari Kecamatan Sumur.

Di sekitar lokasi tersedia beberapa penginapan bagi wisatawan yang ingin bermalam. Tapi satu hal yang perlu diingat: ini bukan kebun binatang. Satwa di sini liar. Pengunjung disarankan selalu berlindung di balik pepohonan atau tetap berada di menara pengintai untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago
3 weeks ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!