Bye Salmon ! Ikan Asli Indonesia Ini Ternyata Punya Omega-3 Tertinggi di Dunia

3 menit membaca
Padilah Rahayu
Ragam - 03 Feb 2026

Indoragamnewscom-Banyak yang mengira kalau mau pintar dan sehat harus rajin makan ikan salmon atau ikan gabus. Tapi, riset terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru mematahkan anggapan itu. Ternyata, “juara” Omega-3 sebenarnya adalah ikan asli Indonesia yaitu Ikan Sidat.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Gadis Sri Haryani, menegaskan kalau kandungan gizi sidat jauh melampaui salmon maupun gabus.

“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” ujar Gadis, dikutip dari laman resmi BRIN.

Gudang Nutrisi buat Otak dan Jantung

Gak main-main, ikan sidat dibekali paket komplit nutrisi. Selain Omega-3 (DHA dan EPA) yang paling tinggi, ikan ini juga kaya Vitamin A, Vitamin B kompleks, zat besi, protein, hingga fosfor.

Sebagai catatan, kandungan DHA sangat krusial buat perkembangan fungsi otak manusia. Sementara itu, EPA berperan penting buat meredam peradangan dan menjaga jantung tetap sehat.

Siklus Hidup yang Unik (dan Rumit)

Sidat bukan ikan biasa. Mereka punya siklus hidup “katadromus” yang cukup dramatis. Gadis menjelaskan bahwa sidat menetas di laut sebagai larva transparan berbentuk daun yang disebut leptocephalus.

“Kemudian selama perjalanan dari perairan laut dalam ke estuari, dia berubah menjadi sidat kaca atau glass eel,” tambahnya.

Sayangnya, karena siklus hidupnya yang melintasi laut, muara, dan air tawar, populasi sidat sangat rentan terhadap gangguan lingkungan dan eksploitasi berlebih.

Tantangan Industri: Dari Harga ‘Ghaib’ sampai Pakan Impor

Karena tingginya permintaan pasar global, perburuan glass eel (bibit sidat) di alam liar jadi sangat masif. Efeknya? Pasokan buat industri jadi gak stabil dan harganya sering fluktuatif. Kadang mahal banget, kadang malah gak terserap pasar karena kapasitas tempat penangkaran (hatchery) yang penuh.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebenarnya sudah gercep mengeluarkan aturan kuota tangkap dan batas minimal ukuran ekspor (150 gram/ekor) biar sidat gak punah. Tapi menurut Gadis, tantangannya masih banyak.

“Efektivitas kebijakan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan kapasitas pembesaran dan hatchery, ketergantungan pada pakan impor, serta lemahnya sistem pengawasan,” terangnya.

Masa Depan: Jadi Raja Ekspor Ikan Olahan

Visi ke depannya adalah berhenti jadi sekadar pengekspor bahan mentah. Gadis menekankan pentingnya tata kelola ekologi sebagai fondasi hilirisasi industri. Artinya, kita harus fokus pada budidaya domestik dan pengolahan ikan sidat di dalam negeri.

Kalau populasi sidat terjaga dan ekosistemnya sehat (ketahanan ekologi), maka industri bernilai tinggi yang stabil pun akan tercipta (ketahanan ekonomi).

“Pada akhirnya, pemanfaatan sidat yang bertanggung jawab akan menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga kelestarian laut dan perairan tawar Indonesia sebagai fondasi masa depan bangsa,” pungkasnya.

Bagikan Disalin

IKLAN

IKLAN

IKLAN

INSTAGRAM

1 week ago
3 weeks ago
4 weeks ago
2 months ago
2 months ago

YOUTUBE

x
x
CLOSE ADS
error: Content is protected !!