Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan santunan dan mengangkat anak sebagai anak asuh di rumah duka korban kecelakaan KA Bekasi, Selasa (28/4/2026)/Foto: BAPEDA JabarIndoragamnewscom, BEKASI-Pukul 20.16 WIB, Senin malam (27/4/2026), Nurlela mengirim pesan pendek ke rekannya, Endang. Bukan tentang rencana besar, bukan tentang kelelahan mengajar seharian. Ia hanya khawatir jus yang tertinggal di kantor akan diserbu semut. “Mungkin takut disemutin, mau minta tolong buangin,” kenang Endang sambil menahan isak di depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi dini hari tadi.

Pesan singkat itu adalah percakapan terakhirnya. Beberapa menit kemudian, KRL yang ditumpangi wanita 40 tahun itu bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di perlintasan Stasiun Bekasi Timur. Sebuah taksi listrik lebih dulu tertemper KRL di perlintasan Bulak Kapal. KRL berhenti untuk evakuasi. Namun kereta jarak jauh dari arah berlawanan tak sempat mengerem. Nurlela tidak pernah sampai ke rumahnya di Cikarang pada malam itu.
Di tengah duka yang menyelimuti SDN Pulo Gebang 11, Jakarta Timur, tempat Nurlela mengabdi sebagai guru sekaligus bendahara , Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang ke rumah duka di Kampung Ceger, Desa Tanjungbaru, pada Selasa (28/4/2026).
Bukan sekadar takziah. Mantan Bupati Purwakarta itu duduk di ruang tamu, berbincang dengan suami dan anak korban yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Di tengah obrolan yang berlangsung sekitar 20 menit, Dedi mengambil keputusan yang mengubah hidup keluarga itu.

“Saya akan jadikan anak ibu sebagai anak angkat saya. Biaya sekolahnya sampai kuliah saya yang tanggung,” kata Dedi Mulyadi. Sang suami hanya bisa menunduk, terisak.
Dedi Mulyadi juga menyerahkan santunan tunai Rp50 juta. Ia meminta agar uang itu tidak dipakai untuk konsumsi harian, melainkan disimpan dalam bentuk deposito. Tujuannya: menjamin biaya pendidikan anak semata wayang korban hingga masa depan.
“Saya dan atas nama pemerintah provinsi mengucapkan rasa duka kami. Kepada keluarga almarhumah Nurlaela dan juga korban lainnya baik yang meninggal, luka-luka yang masih dirawat maupun sudah pulang,” ujar Dedi.
Kecelakaan ini terus menyisakan luka. Hingga Rabu (29/4/2026) siang, data dari Polda Metro Jaya mencatat total 106 orang terdampak. 16 orang meninggal dunia, 46 masih dirawat, dan 44 telah dipulangkan.
Nurlela, sapaan akrabnya Ela, adalah sosok yang dikenal sabar dan berdedikasi. Setiap hari, ia berangkat sebelum subuh dari Cikarang menuju Jakarta Timur. Ia pulang saat gelap mulai turun. Murid-muridnya di SDN Pulo Gebang 11 dipulangkan lebih awal pada Selasa pagi, karena semua guru berangkat melayat.
Namun, di balik kesedihan, Dedi Mulyadi membawa pesan politik yang keras. Ia mendesak investigasi menyeluruh atas tragedi itu. “Di Indonesia tidak boleh ada lagi kecelakaan kendaraan angkutan massal yang menyebabkan korban jiwa,” tegasnya.
Desakan itu sejalan dengan langkah Pemerintah Kota Bekasi. Wali Kota Tri Adhianto mengakui pembangunan flyover di perlintasan sebidang telah lama direncanakan, namun terkendala biaya.
“Kebutuhan anggaran mencapai Rp250-Rp300 miliar. Saat ini kami baru memiliki Rp106 miliar untuk pembebasan lahan,” ungkapnya.
Plt Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, juga berjanji memprioritaskan flyover di titik rawan seperti Lemahabang . Komitmen para pejabat itu hadir di atas pusara seorang guru yang sehari-harinya hanya ingin memastikan air jusnya tidak basi.







Tidak ada komentar